Saturday, 13 February 2016

TRADISI RELIGIUS REBO WEKASAN YANG TERNODAI


Meniti sejarah dan perkembangan tradisi Rabo Wekasan di desa Suci Manyar Gresik

Rebo Wekasan di Desa Suci sudah mengalami perubahan dari budaya
sakral  ke profan. Pada awalnya upacara adat Rebo Kasan memiliki ritual
yang sakral yaitu hadrah, Khotmil Qur’an, istighotsah, bersuci
di sendang dan sholat malam. Namun, dari  tahun ke tahun
Rebo Kasan semakin menonjolkan hiburannya seperti pasar Rebo Kasan,
panggung hiburan dan komedi putar.

            Langit cerah berhiaskan bintang-bintang. Ribuan orang melangkahkan kaki berjalan di hadapan para penjual untuk sekedar melihat-lihat ataupun membeli keperluannya. Suara keramaianpun terdengar begitu jelas di telinga. Selain itu, deretan beranekaragam barang dijajakan di pinggiran jalan mulai dari pakaian, makanan, hingga perabotan rumah tangga seperti panci, sapu dan barang-barang lain, semua tersedia saat malam Rabo Wekasan di desa Suci telah tiba.
             Istilah Rabo Wekasan berasal dari kata Rabu Pungkasan (terakhir) atau Rabu terakhir di bulan Safar. Tradisi Rabo Wekasan adalah tradisi tahunan warga desa Suci Manyar Gresik saat malam Rabu terakhir bulan Safar. Namun tradisi ini sebenarnya tidak hanya dilakukan di Gresik, Jawa Timur saja, tetapi dilaksanakan juga di daerah lain, seperti Bogor, Banten, dan Yogyakarta namun dengan cara yang berbeda. Maksud dari tradisi ini kurang lebih sama di setiap daerah yang melaksanakannya, yaitu untuk memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana). Sebab terdapat sebuah mitos bahwasanya pada malam rabu tersebut, semua bala’ akan diturunkan oleh Allah SWT di bumi.
            Malam itu pula tujuh santri dari pondok pesantren Mambaus Sholihin (termasuk aku) menghadiri atau lebih tepatnya melihat agenda saat malam Rabo Wekasan di masjid At-Taqwa. Lokasinya tak jauh dari keramaian deretan jalan pasar Rabo Wekasan tepatnya di sebelah barat jalan tersebut. Namun, dikarenakan jalanan yang dipenuhi oleh pengunjung dari berbagai kota, maka butuh beberapa menit lebih lama untuk sampai di lokasi.
            Agenda malam itu adalah mandi sesuci dan sholat malam tepat pukul 24.00 pm di area masjid at-Taqwa. Maka dari itu, sebelum melihat agenda tersebut kami berinisiatif untuk berjalan-jalan terlebih dahulu merasakan keramaian desa malam itu. Hampir lebih dari 500 meter kami berjalan namun keramaian masyarakat baik penjual ataupun pengunjung masih kami rasakan.
            Dikarenakan asyik melihat-lihat akhirnya kami tidak sadar jikalau jam telah menunjukkan  pukul 24.10 pm, kamipun bergegas menuju masjid at-Taqwa. Ternyata acara mandi sesucipun telah usai. Kamipun hanya bisa mengetahui dan melaksanakan sholat malam dengan sesepuh-sesepuh di masjid tersebut. Sebenarnya agenda ini tidak hanya dilaksanakan pada malam rabo saja namun pada hari-hari sebelumnya telah dilaksanakan beberapa agenda seperti kirap tumpeng, khotmil quran, istighosah dan agenda-agenda lainnya.

AGENDA: Banner yang dipasang di gerbang desa Suci

Mengenai sejarah Rabo Wekasan, hal ini bermula dari sebuah perintah Sunan Giri kepada Syeikh Jamaluddin Malik yang masih kerabat dekat dan sekaligus murid beliau. Konon ia diperintahkan oleh Sunan Giri untuk menyebarkan agama islam ke Barat Kota Gersik. Dengan niat tulus, akhirnya beliau berangkat ke tempat tujuan.
Dalam mengemban tugas mulia tersebut, tidak jarang di perjalanan syeikh Jamaluddin Malik mendapat beberapa rintangan yang tidak mudah dihadapinya, yaitu termasuk kondisi sosial dan cuaca alam yang tidak mendukung untuk seorang perantauan. Sesampai ditempat tujuan, ia tinggal di Kampung Polaman, salah satu kampung yang ada di barat Kota Gersik. Setelah mengenal dan memahami kondisi sosial masyarakat setempat, ia mulai mendirikan sebuah Masjid sebagai tempat beribadah dan tempat untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Setelah Masjid selesai dibangun, Syeikh Jamaluddin Malik membuat sumur untuk kebutuhan bersesuci dan lainnya. Berkat karomah yang dimilikinya, air pun dengan mudah menyembur deras. Dari saking derasnya, air mengalir kemana-mana. Melihat air yang begitu banyak, masyarakat sekitar berbondong-bondong datang ke Masjid guna untuk memanfaatkan sumber air tersebut. Berawal dari itulah, nama sumur itu diabadikan oleh penduduk sekitar, dengan diberi nama Sumur Gede yang berarti Sumur Besar walaupun ukurannya tidak jauh berbeda dengan sumur pada umumnya. Tapi karena besar manfaatnya, maka sumur tersebut diberi namai Sumur Gede.
Di sebelah Sumur tersebut, terdapat pohon asam yang tinggi menjulang. Karena buah asam itu manis, maka nama pohon asam itu, diabadikan oleh masyarakat menjadi nama kampung, yaitu kampung Asemanis. Karena di Desa Asemanis semakin hari semakin ramai, maka kebutuhan kepada air secara otomatis semakin bertambah, sementara persediaan air yang ada semakin menipis.

SITUS SEJARAH: Suasana anak-anak mandi di Sendang Sono

Tak lama kemudian, Syeikh Jamaluddin menemui Sunan Giri untuk berkonsultasi bagaimana cara mengatasi problem yang dihadapi masyarakat itu. Melalui petunjuk Sunan Giri ia menelusuri lereng bukit yang ada disebelah utara kampong polaman. Di sela-sela pohon yang rimbun Syeikh Jamaluddin menemukan sumber air yang jernih dan besar. Air tersebut cukup dipakai untuk bersuci menurut ketentuan agama sehingga akhirnya tempat itu dinamakan Desa Suci. Setelah ditemukannya air tersebut, maka Masjid yang dibangun di Kampung Polaman atau Asemanis, dipindah ketempat dimana air itu ditemukan atas saran Sunan Giri. Selanjutnya, Masjid itu diberi nama Raudhatus Salam (yang saat ini dirubah menjadi at-Taqwa) tepatnya di depan sumber air suci yang ditemukan Syeikh Jamaluddin Malik. Karena kualitas dan uniknya, maka sumber air suci itu, disebut telaga suci oleh masyarakat kampong Sendang Sono Desa Suci.       
Untuk mengapresiasi ditemukannya sumber air (telaga suci) tersebut, masyarakat Desa Suci mengadakan semacam ritual syukuran dan riyadhoh sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT yang hingga saat ini dirayakan oleh masyarakat Sendang Sono Desa Suci. pelaksanaannya tepat pada hari rabu di bulan shafar. Ritual ini diekspresikan dengan mandi malam di kampung Sendang Sono (telaga suci) dilanjutkan dengan Sholat Malam dengan harapan agar terhindar dari bermacam- macam bala’ (bencana) yang turun tepat pada malam rebo wekasan.
Berawal dari itulah masyarakat Desa Suci berbondong-bondong rutin menggelar ritual rebo wekasan tersebut tepatnya di telaga suci itu. Kesempatan ini digunakan oleh masyarakat desa Suci sendiri ataupun luar Suci untuk mencari nafkah. Dari beberapa penjual di sekitar sumber menjadi ribuan penjual sampai ke seluruh desa memanfaatkan kesempatan ini. 


TERNODAI: Suasana keramaian penjual dan pengunjung saat Rabo Wekasan

Dalam perjalanannya yang hampir mencapai lima abad, rebo wekasan mulai tercerabut dari akar tujuan dan nilai-nilai serta fungsi tradisinya. Hal ini tampak dari beberapa kegiatan-kegiatan yang semula untuk mendekat diri kepada Yang Maha Kuasa menjadi acara hiburan yang jauh dari nilai-nilai islam dan tradisi semula. Bahkan, tidak jarang ditemukan pasangan muda-mudi bergandeng tangan bemesraan dan lainnya. Acara-acaranya pun telah diganti dengan hiburan-hiburan modern yang cenderung jauh dari nilai-nilai islam seperti orkes dangdutan, pasar malam dan lain sebagainya. Masyarakat memknai arti dari Rebo Wekasan sebagai agenda hiburan dan pasar kebutuhan. Mereka sudah tidak peduli terhadap ritual-ritual yang telah diwariskan oleh leluhurnya dikarenakan tergerusnya tradisi tersebut oleh kegiatan ekonomi masyarakat yang dapat mempengaruhi pola pikir mereka.
Seletah melihat dan mengikuti agenda malam ini dengan hikmat, kamipun tersadar bahwa agenda religi tersebut telah tergerus oleh zaman. Sebab, hampir seluruh masyarakat yang mengikuti agenda ini adalah dari golongan tua dan dari golongan remajapun dapat kami hitung dengan jari, bahkan di tengah agenda terdapat beberapa remaja yang sudah tidak tahan dan memutuskan untuk kembali ke rumah ataupun keluar menuju keramaian di luar sana.
Tepat pukul 01.35, acarapun selesai. Dengan menahan kantuk yang begitu kuat kami kembali ke pondok melewati deretan penjual disamping jalan. Terlihat jelas, beberapa remaja yang masih berkeliaran dan bergandengan tangan dengan pasangan mereka. Dari sinilah aku berfikir “bagaimana bisa tradisi ini terus dilestarikan jikalau situasi dan kondisi masih akan tetap seperti ini?.//dikutip dari berbagai sumber//



1 comment:

  1. jika terdapat tradisi yang seharusnya dilakukan untuk tradisi tersebut, apakah keseluran yang bermukim ditempat itu menghiraukan tradisi itu? atau semakin berkembangnya waktu akan menjadi kesalahpahaman sebuah tradisi rabo wekasan itu sendiri?

    ReplyDelete