Meniti
sejarah dan perkembangan tradisi
Rabo Wekasan di desa Suci Manyar Gresik
Rebo Wekasan di Desa Suci sudah
mengalami perubahan dari budaya
sakral ke profan. Pada awalnya upacara adat Rebo
Kasan memiliki ritual
yang sakral yaitu hadrah, Khotmil
Qur’an, istighotsah, bersuci
di sendang dan sholat malam. Namun,
dari tahun ke tahun
Rebo Kasan semakin menonjolkan
hiburannya seperti pasar Rebo Kasan,
panggung hiburan dan komedi putar.
Langit cerah berhiaskan
bintang-bintang. Ribuan orang melangkahkan kaki berjalan di hadapan para
penjual untuk sekedar melihat-lihat ataupun membeli keperluannya. Suara
keramaianpun terdengar begitu jelas di telinga. Selain itu, deretan
beranekaragam barang dijajakan di pinggiran jalan mulai dari pakaian, makanan,
hingga perabotan rumah tangga seperti panci, sapu dan barang-barang lain, semua
tersedia saat malam Rabo Wekasan di desa Suci telah tiba.
Istilah Rabo Wekasan berasal dari kata Rabu
Pungkasan (terakhir) atau Rabu terakhir di bulan Safar. Tradisi Rabo Wekasan
adalah tradisi tahunan warga desa Suci Manyar Gresik saat malam Rabu terakhir
bulan Safar. Namun tradisi ini sebenarnya tidak hanya dilakukan di Gresik, Jawa
Timur saja, tetapi dilaksanakan juga di daerah lain, seperti Bogor, Banten, dan
Yogyakarta namun dengan cara
yang berbeda. Maksud dari tradisi ini kurang lebih sama di
setiap daerah yang melaksanakannya, yaitu untuk memohon kepada Allah SWT agar
dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana). Sebab terdapat sebuah mitos bahwasanya pada malam rabu
tersebut, semua bala’ akan diturunkan oleh Allah SWT di bumi.
Malam
itu pula tujuh santri dari pondok pesantren Mambaus Sholihin (termasuk aku) menghadiri
atau lebih tepatnya melihat agenda saat malam Rabo Wekasan di masjid At-Taqwa.
Lokasinya tak jauh dari keramaian deretan jalan pasar Rabo Wekasan tepatnya di
sebelah barat jalan tersebut. Namun, dikarenakan jalanan yang dipenuhi oleh
pengunjung dari berbagai kota, maka butuh beberapa menit lebih lama untuk
sampai di lokasi.
Agenda
malam itu adalah mandi sesuci dan sholat malam tepat pukul 24.00 pm di area
masjid at-Taqwa. Maka dari itu, sebelum melihat agenda tersebut kami
berinisiatif untuk berjalan-jalan terlebih dahulu merasakan keramaian desa malam
itu. Hampir lebih dari 500 meter kami berjalan namun keramaian masyarakat baik
penjual ataupun pengunjung masih kami rasakan.
Dikarenakan
asyik melihat-lihat akhirnya kami tidak sadar jikalau jam telah
menunjukkan pukul 24.10 pm, kamipun
bergegas menuju masjid at-Taqwa. Ternyata acara mandi sesucipun telah usai.
Kamipun hanya bisa mengetahui dan melaksanakan sholat malam dengan
sesepuh-sesepuh di masjid tersebut. Sebenarnya agenda ini tidak hanya
dilaksanakan pada malam rabo saja namun pada hari-hari sebelumnya telah
dilaksanakan beberapa agenda seperti kirap tumpeng, khotmil quran, istighosah
dan agenda-agenda lainnya.
AGENDA: Banner yang dipasang di gerbang desa Suci
Mengenai sejarah Rabo Wekasan, hal ini bermula dari
sebuah perintah Sunan Giri kepada Syeikh Jamaluddin Malik yang masih kerabat
dekat dan sekaligus murid beliau. Konon ia diperintahkan oleh Sunan Giri untuk
menyebarkan agama islam ke Barat Kota Gersik. Dengan niat tulus, akhirnya beliau
berangkat ke tempat tujuan.
Dalam mengemban tugas mulia tersebut, tidak jarang di
perjalanan syeikh Jamaluddin Malik mendapat beberapa rintangan yang tidak mudah
dihadapinya, yaitu termasuk kondisi sosial dan cuaca alam yang tidak mendukung
untuk seorang perantauan. Sesampai ditempat tujuan, ia tinggal di Kampung
Polaman, salah satu kampung yang ada di barat Kota Gersik. Setelah mengenal dan
memahami kondisi sosial masyarakat setempat, ia mulai mendirikan sebuah Masjid
sebagai tempat beribadah dan tempat untuk mengajarkan ilmu agama kepada
masyarakat.
Setelah Masjid selesai dibangun, Syeikh Jamaluddin Malik
membuat sumur untuk kebutuhan bersesuci dan lainnya. Berkat karomah yang
dimilikinya, air pun dengan mudah menyembur deras. Dari saking derasnya, air
mengalir kemana-mana. Melihat air yang begitu banyak, masyarakat sekitar
berbondong-bondong datang ke Masjid guna untuk memanfaatkan sumber air
tersebut. Berawal dari itulah, nama sumur itu diabadikan oleh penduduk sekitar,
dengan diberi nama Sumur Gede yang berarti Sumur Besar walaupun ukurannya tidak
jauh berbeda dengan sumur pada umumnya. Tapi karena besar manfaatnya, maka
sumur tersebut diberi namai Sumur Gede.
Di sebelah Sumur tersebut, terdapat pohon asam yang
tinggi menjulang. Karena buah asam itu manis, maka nama pohon asam itu,
diabadikan oleh masyarakat menjadi nama kampung, yaitu kampung Asemanis. Karena
di Desa Asemanis semakin hari semakin ramai, maka kebutuhan kepada air secara
otomatis semakin bertambah, sementara persediaan air yang ada semakin menipis.
SITUS
SEJARAH: Suasana anak-anak
mandi di Sendang Sono
Tak lama kemudian, Syeikh Jamaluddin menemui Sunan Giri
untuk berkonsultasi bagaimana cara mengatasi problem yang dihadapi masyarakat
itu. Melalui petunjuk Sunan Giri ia menelusuri lereng bukit yang ada disebelah
utara kampong polaman. Di sela-sela pohon yang rimbun Syeikh Jamaluddin
menemukan sumber air yang jernih dan besar. Air tersebut cukup dipakai untuk
bersuci menurut ketentuan agama sehingga akhirnya tempat itu dinamakan Desa
Suci. Setelah ditemukannya air tersebut, maka Masjid yang dibangun di Kampung
Polaman atau Asemanis, dipindah ketempat dimana air itu ditemukan atas saran
Sunan Giri. Selanjutnya, Masjid itu diberi nama Raudhatus Salam (yang saat ini
dirubah menjadi at-Taqwa) tepatnya di depan sumber air suci yang ditemukan Syeikh
Jamaluddin Malik. Karena kualitas dan uniknya, maka sumber air suci itu,
disebut telaga suci oleh masyarakat kampong Sendang Sono Desa Suci.
Untuk
mengapresiasi ditemukannya sumber air (telaga suci) tersebut, masyarakat Desa
Suci mengadakan semacam ritual syukuran dan riyadhoh sebagai bentuk syukur
kepada Allah SWT yang hingga saat ini dirayakan oleh masyarakat Sendang Sono
Desa Suci. pelaksanaannya
tepat pada hari rabu di bulan shafar. Ritual ini diekspresikan dengan mandi
malam di kampung Sendang Sono (telaga
suci) dilanjutkan
dengan Sholat Malam dengan
harapan agar terhindar dari bermacam- macam bala’ (bencana) yang turun tepat pada malam rebo wekasan.
Berawal dari itulah masyarakat Desa Suci
berbondong-bondong rutin menggelar ritual rebo wekasan tersebut tepatnya di
telaga suci itu. Kesempatan ini digunakan oleh masyarakat desa Suci sendiri
ataupun luar Suci untuk mencari nafkah. Dari beberapa penjual di sekitar sumber
menjadi ribuan penjual sampai ke seluruh desa memanfaatkan kesempatan ini.
TERNODAI: Suasana keramaian penjual dan pengunjung saat Rabo Wekasan
Dalam perjalanannya yang hampir mencapai lima abad, rebo
wekasan mulai tercerabut dari akar tujuan dan nilai-nilai serta fungsi
tradisinya. Hal ini tampak dari beberapa kegiatan-kegiatan yang semula untuk
mendekat diri kepada Yang Maha Kuasa menjadi acara hiburan yang jauh dari
nilai-nilai islam dan tradisi semula. Bahkan, tidak jarang ditemukan pasangan
muda-mudi bergandeng tangan bemesraan dan lainnya. Acara-acaranya pun telah
diganti dengan hiburan-hiburan modern yang cenderung jauh dari nilai-nilai
islam seperti orkes dangdutan, pasar malam dan lain sebagainya. Masyarakat
memknai arti dari Rebo Wekasan sebagai agenda hiburan dan pasar kebutuhan. Mereka
sudah tidak peduli terhadap ritual-ritual yang telah diwariskan oleh leluhurnya
dikarenakan tergerusnya tradisi tersebut oleh kegiatan ekonomi masyarakat yang
dapat mempengaruhi pola pikir mereka.
Seletah melihat dan mengikuti agenda malam ini dengan
hikmat, kamipun tersadar bahwa agenda religi tersebut telah tergerus oleh zaman. Sebab, hampir seluruh masyarakat yang
mengikuti agenda ini adalah dari golongan tua dan dari golongan remajapun dapat
kami hitung dengan jari, bahkan di tengah agenda terdapat beberapa remaja yang sudah
tidak tahan dan memutuskan untuk kembali ke rumah ataupun keluar menuju
keramaian di luar sana.
Tepat pukul 01.35, acarapun selesai. Dengan menahan kantuk yang begitu kuat kami kembali ke pondok melewati deretan penjual disamping
jalan. Terlihat jelas, beberapa remaja yang masih berkeliaran dan bergandengan
tangan dengan pasangan mereka. Dari sinilah aku berfikir “bagaimana bisa
tradisi ini terus dilestarikan jikalau situasi dan kondisi masih akan tetap
seperti ini?.//dikutip dari berbagai sumber//



jika terdapat tradisi yang seharusnya dilakukan untuk tradisi tersebut, apakah keseluran yang bermukim ditempat itu menghiraukan tradisi itu? atau semakin berkembangnya waktu akan menjadi kesalahpahaman sebuah tradisi rabo wekasan itu sendiri?
ReplyDelete