Saturday, 13 February 2016

CERPEN PART I: TANPANYA



Seperti hari-hari biasannya, tepat pukul sepuluh malam aku pulang ke rumah secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuaku melalui pintu belakang. Terkadang kepulanganku diketahui oleh Pak. Anto satpam pribadi keluargaku yang selalu begadang di pos depan, namun aku selalu menyuruhnya untuk tutup mulut agar mamaku tak memarahiku. Selama satu bulan ini mama tak pernah tau kalau aku selalu pulang larut malam, terlebih lagi papaku saat ini sedang ada tugas di luar kota. Hal inilah yang membuatku berani untuk melakukannya.
.
Sesampainya di kamarku, kurebahkan seluruh tubuhku di kasur putih kekuning-kuningan milikku. Saat kumelihat meja belajar di samping almari pakaianku, terlihat sebuah gelas besar kosong. Akupun teringat kepada papaku. Setiap malam saat aku bermain game di kamar, dia selalu menyuruhku untuk belajar namun bagiku belajar adalah hal yang paling membosankan. Aku sangat malas untuk melakukannya. Diapun tau cara membujukku agar mau belajar.
“Rio.. cepat belajar gih, nanti papa buatkan susu” ucapnya.
“Oke pa.. Rio belajar!! Kalo ada susu Rio pasti belajar!! hehehe” ucapku riang gembira.
Memang sejak kecil, aku sangatlah suka minum susu sapi murni namun sejak kecil pula aku sangatlah sulit untuk diajak belajar. Hal yang selalu kulakukan saat papa menyuruhku belajar hanyalah memasukkan buku-buku pelajaran besok dan membolak-baliknya untuk melihat apakah ada tugas dari guru ataupun tidak. Dan setelah dia memberikan susu dan pergi dari kamarku, kuambil kembali tab berisikan puluhan gameku dan kulanjutkan bermain. 
.
Namun terkadang, saat dia tak memiliki banyak tugas dari kantornya, dia selalu menemaniku di kamar untuk hanya sekedar bercerita pengalamannya ataupun mengajariku pelajaran biologi ataupun kimia sesuai dengan profesinya, dokter. Akupun tau kalau dia ingin aku meneruskan jejaknya sebagai seorang dokter namun aku tak terlalu memikirkannya sebab bagiku di usia 16 tahun ini, belumlah saatnya memikirkan hal semacam itu. 
.
Mentari pagi telah menampakkan sinar indahnya, menerobos masuk melewati candela kaca yang sejak tadi malam dibingkai indah oleh kelambu biru bergaris-garis. Kicauan burung kian terdengar begitu ramai menusuk telinga setiap orang yang mendengarnya tak terkecuali diriku. Kulihat ke sekeliling ruangan dengan pikiran kosong, setelah beberapa menit barulah aku tersadar jikalau tadi malam diriku tertidur di pertengahan lamunanku. Sontak kulihat ke arah jam dinding, jarum jam menunjukkan pukul 07.30. aku sangatlah kaget sebab hari ini adalah hari pembagian raport sekolahku dan seluruh siswa harus datang pukul 07.00 tepat. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok..
“Rio!! Bagun!! Sekolah..!!” panggil kakakku Vika dari depan kamarku.
“Ya kak..!! ini lagi persiapan!!” Jawabku.
Akupun segera melompat dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Tak lebih dari 10 menit, aku telah berpakaian rapi dan menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarga.
“Kak Vella dan Vivi mana?” tanyaku penasaran
“Sudah berangkat semua” jawab Bi Atik pembantu rumah sembari menaruh segelas susu di hadapanku.
“Ow.. Makasih ya bi susunya.. bibi memang orang paling baik di dunia” ucapku.
Bibipun ingin menjawab pujianku.
“Eiiits, tapi nomer 2 setelah papa.. hahahha” candaku pada bibi.
Tiba-tiba mama datang dari ruang tengah bersama dengan kak Vika.
“Vik, jangan lupa pesan mama ya..” ucapnya kepada kak Vika.
“Ya buk, Vika berangkat kuliah dulu ya..”balasnya. “Rio, kakak berangkat ya..” lanjutnya.
“Ya kak, hati-hati” ucapku.
Dia adalah kakak perempuan tertuaku, kak Vika. Dia adalah mahasiswa semester akhir di salah satu universitas terkenala di Malang. Jurusan kedokteran adalah pilihannya sebab dia juga ingin meneruskan jejak papa, menjadi dokter ternama di Malang. Selain kak Vika, kak Vella dan Vivi juga turut melengkapi kebahagiaan keluargaku. Aku pernah berfikir mengapa semua kakakku perempuan sebab aku ingin merasakan memiliki seorang kakak laki-laki. Namun hal itu hanyalah lamunan belaka.
.
Dulu, aku selalu diiringi oleh kebahagiaan saat berkumpul bersama keluargaku. Namun sekarang, semenjak ketiga kakakku kuliah mereka tak pernah punya waktu untuk mengajariku di rumah. Papapun sekarang jarang sekali di rumah sebab tugas-tugasnya di rumah sakit. Dan mamaku, bagiku dia tidak begitu menyayangiku karena segala kebaikan yang dia lakukan kepadaku selalu terasa hampa, serasa tak berisikan ketuluasan kasih sayang. Bahkan bagiku, Bi Atiklah orang yang pantas menjadi mamaku sebab dialah yang selalu merawat dan mengajakku bermain sejak aku kecil.
“Sarapannya yang cepat ri.. ntar telat ke sekolah lo” ucap mamaku sembari duduk di kursi meja makan.
“Ya ma..” jawabku singkat
Setelah kalimat itu, tak sepatah katapun dilontarkan olehnya. Aku memakan rotiku dan mama juga memakan rotinya. Suasana terasa diam dan hampa, hanya terdengar suara gemericik air Bi Atik mencuci piring di dapur.
“Ma.. ntar jam 10 datang ke sekolahku ya.. wali murid disuruh datang ambil rapot” ucapku sambil berdiri untuk segera berangkat ke sekolah.
“Ya.. insyaallah...!!” jawabnya singkat.
Sudah kuduga jawabannya akan seperti itu.
“Rio, jangan ngebut di jalan” ucapnya hampa
“Ya ma.. santai saja Rio tau kok ma” jawabku berlagak polos.
Semua orang tua pastilah senang melihat hasil dari jerih payah anaknya. Baik itu hasil yang memuaskan ataupun sebaliknya karena segala hal tidaklah dilihat dari hasilnya namun proses menuju hasil tersebutlah yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Begitupun saat ini, tepat pukul sebelas siang seluruh murid SMAN 1 Saworoto panas dingin menunggu di depan ruangan perkumpulan wali murid layaknya tersangka korupsi yang sedang menunggu keputusan hukuman dari hakim baginya. Mereka menunggu orang tua mereka keluar membawa hasil raport mereka.
.
Satu persatu wali murid keluar kelas dan mencari anaknya masing-masing. Berbagai macam cara mereka untuk meluapkan kebahagiaan ataupun kesedihan mereka. Ada yang memeluk anaknya, menangis bahagia, marah karena nilai jelek, bahkan ada juga yang pasrah dengan hasil anaknya.
“Gak apa-apa, besok harus belajar lebih giat lagi ya” ucapnya sambil mengusap kepala anaknya.
Akupun hanya tersenyum melihat semua itu. Keluarga memang sesuatu yang indah. Tak akan satupun kebahagiaan sejati selain kebahagiaan bersama keluarga.
Namun, senyumku berubah saat kulihat temanku Lutfi duduk termenung di pojok halaman sedirian sambil memutar-mutar Handphonenya. Tanpa berfikir panjang, kutinggalkan tempat itu untuk menghampirinya.

“Lut, pesimis gak dapat ranking 1?” ucapku dari kejauhan.
“Ah kau ini, ya nggaklah.. aku pasti ranking 1 lagilah” jawabnya dengan tersenyum.
“Hahahha.. bisa aja kau ini, ngapain disini? Nggak nunggu orangtuamu disana? Ntar orangtuamu diambil anak lain loe” tanyaku bercanda.
“Ah.. nggak mungkinlah, kedua orangtuaku kan udah nggak ada” jawabnya dengan tersenyum.

Mendengar hal itu, hati kecikuku terasa meledak. Tubuhku gemetaran tak tentu arah. Melihat senyumnya tadi benar-benar menyayat hati. Aku tahu senyum dan canda itu hanyalah topeng untunk menutupi perasaanmu saat ini. Di saat semua orang merasakan hangatnya kebahagiaan ataupun kesedihan bersama keluarga mereka disana. Dia hanya merasakn itu sendirian, tak ada yang bisa dibagi ataupun membagi kasih sayangnya. Hanya duduk termenung sendiri.
.
Setelah segala hal yang kualami dalam keluargaku tentang kurang perhatiannya mereka kepadaku saat ini, ternyata keadaan itu jauh lebih baik karena keluargaku masih ada di sisiku, masih bisa makan bersama, bertatap muka dan berbicara bersama walaupun itu tak beberapa lama. Harusnya aku tak mengeluh akan keadaan saat ini karena masih banyak anak di luar sana yang tidak dapat merasakan keindahan bersama keluarga mereka.
Kuhelakan nafasku untuk menutupi semua yang kurasakan.
“Oh maaf, aku tidak tau akan hal itu” ucapku berkaca-kaca.
“Tak apa-apa, aku sudah sangat kuat kok” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara seorang laki-laki memanggilku. Mendengar suara itu, hanya papakulah yang terbesit dalam bayanganku. Tidaklah mungkin suara itu berasal dari mamaku. Aku sangat bahagia karena dia datang jauh-jauh dari luar kota hanya untuk mengambilkan raportku. Namun, saat aku menoleh terlihat Pak. Andi melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
“Itu loe udah ditunggu papamu, ntar papamu diambil anak lain loe” canda Lutfi.
“Ah biarin aja dia diambil, wong dia satpam rumahku” jawabku padanya.
“Oh..” jawabnya singkat.
“Aku balik dulu ya Lut..!!” jawabku sambil menyalami tangannya.
Jawaban singkat tadipun bisa kupahami bahwa dia juga simpati dengan apa yang kualami. Dia tak mau bertanya tentang orangtuaku karena dia tau bahwa orangtuaku juga tidak ada di sisiku di saat momen penting ini. Namun bagiku, apa yang kurasakan masih tak sebanding dengan apa yang selama ini dia rasakan. Kesendirian, kesepian tanpa adanya orang terpenting di sisinya. Orang yang dapat memberikan kasih sayang sejati, keluarga khususnya orangtua saat ini tidak ada dan selamanya takkan pernah ada untuknya.

Ya Rabb, tolong.. berikanlah kebahagiaan baginya, walaupun kutahu tak ada kebahagiaan yang begitu indah di dunia ini selain kebahagiaan bersama keluarga.
Berikanlah kebahagiaan melebihi segala-galanya. Kebahagiaan yang mngkin bisa sebanding ataupun setidaknya tak jauh dari kebahagiaan sejati sebuah keluarga. Karena kutahu pula, bahwa Engkaulah yang maha pengasih lagi maha penyayang.        

Bersambung...... 
Baca kisah selanjutnya Cerpen Part II: Ternyata Aku... 

8 comments:

  1. Replies
    1. Suwun fikri imut... (kate..) maksdnya apa?

      Delete
  2. Trz berkarya.. bakat monyet.e metu ngunu.. eman lek d anggurno

    ReplyDelete
    Replies
    1. oyi2... ladub tok wes... terima kasih fans2 monyet...

      Delete
  3. qw juga punya zeb,.... http://santritwolen.blogspot.co.id/ visit rek,..."

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya terima kasih... kapan2 saja.. hahhaha

      Delete