Seperti
hari-hari biasannya, tepat pukul sepuluh malam aku pulang ke rumah secara
diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuaku melalui pintu belakang. Terkadang
kepulanganku diketahui oleh Pak. Anto satpam pribadi keluargaku yang selalu
begadang di pos depan, namun aku selalu menyuruhnya untuk tutup mulut agar mamaku
tak memarahiku. Selama satu bulan ini mama tak pernah tau kalau aku selalu
pulang larut malam, terlebih lagi papaku saat ini sedang ada tugas di luar
kota. Hal inilah yang membuatku berani untuk melakukannya.
.
.
Sesampainya
di kamarku, kurebahkan seluruh tubuhku di kasur putih kekuning-kuningan
milikku. Saat kumelihat meja belajar di samping almari pakaianku, terlihat
sebuah gelas besar kosong. Akupun teringat kepada papaku. Setiap malam saat aku
bermain game di kamar, dia selalu menyuruhku untuk belajar namun bagiku belajar
adalah hal yang paling membosankan. Aku sangat malas untuk melakukannya. Diapun
tau cara membujukku agar mau belajar.
“Rio..
cepat belajar gih, nanti papa buatkan susu” ucapnya.
“Oke pa.. Rio belajar!! Kalo ada susu
Rio pasti belajar!! hehehe” ucapku riang gembira.
Memang
sejak kecil, aku sangatlah suka minum susu sapi murni namun sejak kecil pula
aku sangatlah sulit untuk diajak belajar. Hal yang selalu kulakukan saat papa
menyuruhku belajar hanyalah memasukkan buku-buku pelajaran besok dan
membolak-baliknya untuk melihat apakah ada tugas dari guru ataupun tidak. Dan
setelah dia memberikan susu dan pergi dari kamarku, kuambil kembali tab
berisikan puluhan gameku dan kulanjutkan bermain.
.
.
Namun
terkadang, saat dia tak memiliki banyak tugas dari kantornya, dia selalu
menemaniku di kamar untuk hanya sekedar bercerita pengalamannya ataupun
mengajariku pelajaran biologi ataupun kimia sesuai dengan profesinya, dokter.
Akupun tau kalau dia ingin aku meneruskan jejaknya sebagai seorang dokter namun
aku tak terlalu memikirkannya sebab bagiku di usia 16 tahun ini, belumlah
saatnya memikirkan hal semacam itu.
.
.
Mentari
pagi telah menampakkan sinar indahnya, menerobos masuk melewati candela kaca
yang sejak tadi malam dibingkai indah oleh kelambu biru bergaris-garis. Kicauan
burung kian terdengar begitu ramai menusuk telinga setiap orang yang
mendengarnya tak terkecuali diriku. Kulihat ke sekeliling ruangan dengan
pikiran kosong, setelah beberapa menit barulah aku tersadar jikalau tadi malam
diriku tertidur di pertengahan lamunanku. Sontak kulihat ke arah jam dinding, jarum
jam menunjukkan pukul 07.30. aku sangatlah kaget sebab hari ini adalah hari
pembagian raport sekolahku dan seluruh siswa harus datang pukul 07.00 tepat. Tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu.
Tok
tok tok..
“Rio!!
Bagun!! Sekolah..!!” panggil kakakku Vika dari depan kamarku.
“Ya
kak..!! ini lagi persiapan!!” Jawabku.
Akupun
segera melompat dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Tak lebih dari 10
menit, aku telah berpakaian rapi dan menuju ke ruang makan untuk sarapan
bersama keluarga.
“Kak
Vella dan Vivi mana?” tanyaku penasaran
“Sudah berangkat semua” jawab Bi Atik pembantu
rumah sembari menaruh segelas susu di hadapanku.
“Ow.. Makasih ya bi susunya.. bibi memang orang paling baik di dunia” ucapku.
“Ow.. Makasih ya bi susunya.. bibi memang orang paling baik di dunia” ucapku.
Bibipun
ingin menjawab pujianku.
“Eiiits,
tapi nomer 2 setelah papa.. hahahha” candaku pada bibi.
Tiba-tiba
mama datang dari ruang tengah bersama dengan kak Vika.
“Vik,
jangan lupa pesan mama ya..” ucapnya kepada kak Vika.
“Ya buk, Vika berangkat kuliah dulu ya..”balasnya.
“Rio, kakak berangkat ya..” lanjutnya.
“Ya
kak, hati-hati” ucapku.
Dia
adalah kakak perempuan tertuaku, kak Vika. Dia adalah mahasiswa semester akhir
di salah satu universitas terkenala di Malang. Jurusan kedokteran adalah
pilihannya sebab dia juga ingin meneruskan jejak papa, menjadi dokter ternama
di Malang. Selain kak Vika, kak Vella dan Vivi juga turut melengkapi
kebahagiaan keluargaku. Aku pernah berfikir mengapa semua kakakku perempuan
sebab aku ingin merasakan memiliki seorang kakak laki-laki. Namun hal itu
hanyalah lamunan belaka.
.
.
Dulu,
aku selalu diiringi oleh kebahagiaan saat berkumpul bersama keluargaku. Namun sekarang,
semenjak ketiga kakakku kuliah mereka tak pernah punya waktu untuk mengajariku
di rumah. Papapun sekarang jarang sekali di rumah sebab tugas-tugasnya di rumah
sakit. Dan mamaku, bagiku dia tidak begitu menyayangiku karena segala kebaikan
yang dia lakukan kepadaku selalu terasa hampa, serasa tak berisikan ketuluasan kasih
sayang. Bahkan bagiku, Bi Atiklah orang yang pantas menjadi mamaku sebab dialah
yang selalu merawat dan mengajakku bermain sejak aku kecil.
“Sarapannya yang cepat ri.. ntar telat
ke sekolah lo” ucap mamaku sembari duduk di kursi meja makan.
“Ya
ma..” jawabku singkat
Setelah
kalimat itu, tak sepatah katapun dilontarkan olehnya. Aku memakan rotiku dan
mama juga memakan rotinya. Suasana terasa diam dan hampa, hanya terdengar suara
gemericik air Bi Atik mencuci piring di dapur.
“Ma.. ntar jam 10 datang ke sekolahku ya..
wali murid disuruh datang ambil rapot” ucapku sambil berdiri untuk segera
berangkat ke sekolah.
“Ya..
insyaallah...!!” jawabnya singkat.
Sudah
kuduga jawabannya akan seperti itu.
“Rio,
jangan ngebut di jalan” ucapnya hampa
“Ya
ma.. santai saja Rio tau kok ma” jawabku berlagak polos.
Semua
orang tua pastilah senang melihat hasil dari jerih payah anaknya. Baik itu
hasil yang memuaskan ataupun sebaliknya karena segala hal tidaklah dilihat dari
hasilnya namun proses menuju hasil tersebutlah yang perlu dipertimbangkan
dengan matang. Begitupun saat ini, tepat pukul sebelas siang seluruh murid SMAN
1 Saworoto panas dingin menunggu di depan ruangan perkumpulan wali murid
layaknya tersangka korupsi yang sedang menunggu keputusan hukuman dari hakim
baginya. Mereka menunggu orang tua mereka keluar membawa hasil raport mereka.
.
.
Satu
persatu wali murid keluar kelas dan mencari anaknya masing-masing. Berbagai macam
cara mereka untuk meluapkan kebahagiaan ataupun kesedihan mereka. Ada yang
memeluk anaknya, menangis bahagia, marah karena nilai jelek, bahkan ada juga
yang pasrah dengan hasil anaknya.
“Gak apa-apa, besok harus belajar lebih
giat lagi ya” ucapnya sambil mengusap kepala anaknya.
Akupun
hanya tersenyum melihat semua itu. Keluarga memang sesuatu yang indah. Tak akan
satupun kebahagiaan sejati selain kebahagiaan bersama keluarga.
Namun,
senyumku berubah saat kulihat temanku Lutfi duduk termenung di pojok halaman
sedirian sambil memutar-mutar Handphonenya. Tanpa berfikir panjang, kutinggalkan
tempat itu untuk menghampirinya.
“Lut,
pesimis gak dapat ranking 1?” ucapku dari kejauhan.
“Ah kau ini, ya nggaklah.. aku pasti
ranking 1 lagilah” jawabnya dengan tersenyum.
“Hahahha.. bisa aja kau ini, ngapain
disini? Nggak nunggu orangtuamu disana? Ntar orangtuamu diambil anak lain loe”
tanyaku bercanda.
“Ah.. nggak mungkinlah, kedua orangtuaku
kan udah nggak ada” jawabnya dengan tersenyum.
Mendengar
hal itu, hati kecikuku terasa meledak. Tubuhku gemetaran tak tentu arah. Melihat
senyumnya tadi benar-benar menyayat hati. Aku tahu senyum dan canda itu
hanyalah topeng untunk menutupi perasaanmu saat ini. Di saat semua orang merasakan
hangatnya kebahagiaan ataupun kesedihan bersama keluarga mereka disana. Dia hanya
merasakn itu sendirian, tak ada yang bisa dibagi ataupun membagi kasih sayangnya.
Hanya duduk termenung sendiri.
.
.
Setelah
segala hal yang kualami dalam keluargaku tentang kurang perhatiannya mereka
kepadaku saat ini, ternyata keadaan itu jauh lebih baik karena keluargaku masih
ada di sisiku, masih bisa makan bersama, bertatap muka dan berbicara bersama
walaupun itu tak beberapa lama. Harusnya aku tak mengeluh akan keadaan saat ini
karena masih banyak anak di luar sana yang tidak dapat merasakan keindahan
bersama keluarga mereka.
Kuhelakan
nafasku untuk menutupi semua yang kurasakan.
“Oh
maaf, aku tidak tau akan hal itu” ucapku berkaca-kaca.
“Tak apa-apa, aku sudah sangat kuat kok”
jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Tiba-tiba,
dari kejauhan terdengar suara seorang laki-laki memanggilku. Mendengar suara
itu, hanya papakulah yang terbesit dalam bayanganku. Tidaklah mungkin suara itu
berasal dari mamaku. Aku sangat bahagia karena dia datang jauh-jauh dari luar
kota hanya untuk mengambilkan raportku. Namun, saat aku menoleh terlihat Pak.
Andi melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
“Itu loe udah ditunggu papamu, ntar
papamu diambil anak lain loe” canda Lutfi.
“Ah
biarin aja dia diambil, wong dia satpam rumahku” jawabku padanya.
“Oh..”
jawabnya singkat.
“Aku
balik dulu ya Lut..!!” jawabku sambil menyalami tangannya.
Jawaban
singkat tadipun bisa kupahami bahwa dia juga simpati dengan apa yang kualami. Dia
tak mau bertanya tentang orangtuaku karena dia tau bahwa orangtuaku juga tidak
ada di sisiku di saat momen penting ini. Namun bagiku, apa yang kurasakan masih
tak sebanding dengan apa yang selama ini dia rasakan. Kesendirian, kesepian
tanpa adanya orang terpenting di sisinya. Orang yang dapat memberikan kasih sayang
sejati, keluarga khususnya orangtua saat ini tidak ada dan selamanya takkan
pernah ada untuknya.
Ya Rabb, tolong.. berikanlah
kebahagiaan baginya, walaupun kutahu tak ada kebahagiaan yang begitu indah di
dunia ini selain kebahagiaan bersama keluarga.
Berikanlah kebahagiaan melebihi
segala-galanya. Kebahagiaan yang mngkin bisa sebanding ataupun setidaknya tak
jauh dari kebahagiaan sejati sebuah keluarga. Karena kutahu pula, bahwa
Engkaulah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Keren,...zeb" (kete....)
ReplyDeleteSuwun fikri imut... (kate..) maksdnya apa?
DeleteNdang dilanjutno brot
ReplyDeleteoyi2.. suwun.. ki spo zo..
DeleteTrz berkarya.. bakat monyet.e metu ngunu.. eman lek d anggurno
ReplyDeleteoyi2... ladub tok wes... terima kasih fans2 monyet...
Deleteqw juga punya zeb,.... http://santritwolen.blogspot.co.id/ visit rek,..."
ReplyDeleteya terima kasih... kapan2 saja.. hahhaha
Delete