Di era globalisasi adalah era yang penuh dengan persaingan
teknologi yang menuntut manusia untuk lebih berkembang khususnya dalam hal ilmu
pengetahuan. Namun, penguasaan ilmu pengetahuan tanpa dibarengi dengan moral
yang baik memberikan dampak yang buruk bagi bangsa ini. Oleh karena itu,
perlulah sebuah pendidikan yang dapat mencakup keduannya, sehingga tidak hanya
ilmu pengetahuan yang dikuasai, namun pengendalian moral yang baik demi
pemanfaatan ilmu pengetahuannya secara bijak.
Dewasa ini bangsa Indonesia seolah-olah sedang berada pada posisi
yang sangat rapuh. Berbagai permasalahan kian menjamur mengotori bangsa ini.
Hal ini sesungguhnya disebabkan oleh kondisi moral dan etika masyarakat yang
sudah mengalami kemerosotan. Kerapuhan moral dan etika bangsa ini makin
terlihat jelas ketika persoalan demi persoalan bangsa semakin hari tidak
semakin hilang, namun justru semakin meningkat tajam. Mulai dari kasus
kekerasan antar kelompok, ketidakadilan sosial dan hukum, hingga budaya korup
penguasa yang makin menggurita.
Penyebab rusaknya moral bangsa saat ini adalah pengaruh budaya luar,
kurangnya penanaman nilai-nilai agama, dan sistem pendidikan yang hanya identik
mengedepankan ilmu duniawi saja jikalau ada porsinya sangatlah minim. Ketiga
hal diatas mungkin hanyalah penyebab dasar, masih banyak lagi penyebab-penyebab
lain yang mengakibatkan moral bangsa ini merosot. Tetapi, untuk memperbaiki
moral bangsa Indonesia cukup dengan menghilangkan 3 penyebab diatas saja.
Pendidikan di Indonesia
Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan.( UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional.)
Pendidikan yang
diterapkan di Indonesia saat ini masih menitik beratkan kepada penguasaan
kurikulum dibandingakan dengan pembentukan karakter. Hal ini menyebabkan
terbentuknya generasi bangsa yang ahli pikir namun terbelenggu dalam kerendahan
moral. Meskipun pemerintah telah menerapkan kurikulum pendidikan berkarakter,
namun dampak yang dirasakan belum mampu membebaskan generasi bangsa dari
belenggu rendahnya moralitas dikarenakan minimnya pengawasan dari guru ataupun
pihak-pihak sekolah lainnya.
Oleh karena itu,
perlulah sebuah pendidikan yang mampu mempertahankan dan mengembangkan karakter
yang dapat menjadi teladan bagi yang lainnya. Sebab pada dasarnya, untuk
menjadi individu yang bertanggungjawab di dalam masyarakat, setiap individu
harus mengembangkan berbagai macam potensi yang ada dalam dirinya, terutama
mengokohkan moral yang akan menjadi panduan bagi praksis mereka dalam lembaga.
Penerapan Pendidikan Karakter di Pesantren bagi Santri
Pondok pesantren
sebagai suatu lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat,
sekaligus memadukan unsur-unsur pendidikan yang amat penting. Pertama, ibadah
unuk menanamkan iman dan takwa terhadap Allah SWT. Kedua, tablig untuk
menyebarkan ilmu. Ketiga, amal untuk mewujudkan kemasyarakatan dalam kehiduan
sehari-hari.
Dalam sejarahnya,
perkembangan pondok pesantren memiliki sistem pendidikan dan pengajaran yang klasik.
Penyelenggaraan sistem ini berbeda-beda antara satu pondok pesantren dengan
pondok pesantren lainnya. Ada sebagian pondok pesantren yang masih mempetahankan
sistem pendidikan semula namun kebanyakan, pondok pesantren saat ini semakin
berubah, karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan di tanah air, serta
tuntutan dari masyarakat di lingkungan pondok pesantren itu sendiri.
Sebagai pendidikan
tertua di Indonesia, pesantren tidak hanya menyelenggarakan pendidikan berciri
khas keagamaan saja, tetapi lebih jauh pesantren juga memainkan peran lebih
sebagai basis dan benteng tangguh yang akan menjaga dan memperkukuh etika dan
moral bangsa. Melihat hakekat pendidikan di pesantren yang mencoba mengajarkan akan
pentingnya akhlak ataupun moral yang efisien dikarenakan sekurang-kurangnya pesantren
telah memainkan peran sebagai berikut.
Yang pertama adalah membentuk kepribadian lewat penerapan pendidikan
islam. Peran kultural pesantren telah diakui oleh banyak pihak bahkan sampai
sekarang. Hal ini bisa terjadi karena sistem pendidikannya yang benar-benar
memperhatikan pendidikan etika dan moral yang tinggi melalui nilai-nilai islam
yang diajarkan, beberapa contoh yakni tawadhu’, tirakat, istiqomah, khidmah, dan
lain-lain.
a.
Tawadhu’
(keta`atan)
Di
pondok pesantren seluruh santri patuh dan taat dengan apa yang didawuhkan oleh
kyai mereka. Segala peraturan yang dilarang keras oleh beliau tidak akan
dilakukan oleh mereka. Disinilah mereka diajarkan untuk taat akan peraturan.
b.
Tirakat
(kesederhanaan)
Santri
selalu diajarkan hidup sederhana dan berkecukupan di pesantren, seperti halnya
makan dan minum secukupnya, pakaian seadanya dan tidur hanya beralaskan tikar.
Dalam hal ini, mereka diajarkan akan kesederhanaan.
c.
Istiqomah
(kedisiplinan)
Segala
sesuatu yang dilakukan oleh santri selalu berlandaskan keistiqomahan sebab
semuanya telah terjadwalkan. Seperti contoh sholat 5 waktu, dzikir dan ta’lim.
Karena telah terjadwal dengan rapi maka mereka diajarkan akan kedisiplinan.
d.
Khidmah
(Keikhlasan dan kepedulian)
Selama
menjadi seorang santri pastinya pernah mengamalkan ilmunya baik untuk temannya
sendiri ataupun adik-adik kelasnya. Dari sinilah proses keikhlasan dan
kepedulian dalam mengamalkan ilmu terbentuk.
Sebenarnya, masih banyak lagi nilai-nilai moral yang terkandung
dalam pendidikan agama islam yang diterapkan di pondok pesantren, sebab
munculnya agama islam adalah untuk memperbaiki akhlak ataupun moral umat
manusia.
Yang kedua, pemantauan dalam penerapan pendidikan karakter sangat
ditekankan. Sebagai lembaga pendidikan
yang berciri khas keagamaan, melalui sifat dan bentuk pendidikan yang
dimilikinya, pesantren mempunyai peluang lebih besar dalam menerapkan
pendidikan karakter secara efektif dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain.
Hal ini dikarenakan santri diwajibkan menetap di kawasan pesantren
dan akan selalu dipantau oleh ustadz-ustadz
mereka sepanjang hari. Berbeda dengan sekolah-sekolah luar yang pengawasannya hanya
berada di kawasan sekolah, jikalau murid sudah meninggalkan kawasan tersebut,
maka sudah tidak ada lagi pengawasan dari pihak sekolah. Mereka akan bebas
berbuat apapun semaunya.
Dan yang ketiga adalah sebagai benteng moralitas bangsa. Pesatnya
kemajuan teknologi dan arus globalisasi telah melahirkan berbagai masalah-masalah
baru, seperti meningkatnya tindak kriminalitas, seperti pembunuhan dan
perampokan sadis, meningkatnya jumlah kenakalan remaja, berkembangnya pergaulan
bebas dan praktek prostitusi, merosotnya kepedulian sosial masyarakat. Pesantren
adalah lembaga pendidikan agama yang menitik beratkan mengenai masalah-masalah
etika dan moral dengan benar-benar menyaring segala hal mengenai perkembangan
sosial dan budaya yang disebabkan oleh arus globalisasi yang semakin deras.
Karena itulah, hal-hal
yang dapat merusak pola pikir dan budaya generasi bangsa Indonesia dapat
dicegah dengan penerapan pendidikan karakter khususnya di pesantren, sebab tiga
peran penting pesantren diatas tidak akan diterapkan di sekolah-sekolah lain
walaupun diterapkan kecil kemungkinn dapat terlaksanana dengan maksimal
dikarenakan situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan. Maka dari itulah,
pesantren adalah jalan alternatif untuk mencetak generasi-generasi yang
berkarakter dan pada akhirnya dapat membangun bangsa menuju jalan yang lebih
baik./zen/

No comments:
Post a Comment