Tuesday, 9 February 2016

PERAN PESANTREN DALAM MENINGKATKAN MORAL GENERASI BANGSA



Di era globalisasi adalah era yang penuh dengan persaingan teknologi yang menuntut manusia untuk lebih berkembang khususnya dalam hal ilmu pengetahuan. Namun, penguasaan ilmu pengetahuan tanpa dibarengi dengan moral yang baik memberikan dampak yang buruk bagi bangsa ini. Oleh karena itu, perlulah sebuah pendidikan yang dapat mencakup keduannya, sehingga tidak hanya ilmu pengetahuan yang dikuasai, namun pengendalian moral yang baik demi pemanfaatan ilmu pengetahuannya secara bijak.
Dewasa ini bangsa Indonesia seolah-olah sedang berada pada posisi yang sangat rapuh. Berbagai permasalahan kian menjamur mengotori bangsa ini. Hal ini sesungguhnya disebabkan oleh kondisi moral dan etika masyarakat yang sudah mengalami kemerosotan. Kerapuhan moral dan etika bangsa ini makin terlihat jelas ketika persoalan demi persoalan bangsa semakin hari tidak semakin hilang, namun justru semakin meningkat tajam. Mulai dari kasus kekerasan antar kelompok, ketidakadilan sosial dan hukum, hingga budaya korup penguasa yang makin menggurita.
Penyebab rusaknya moral bangsa saat ini adalah pengaruh budaya luar, kurangnya penanaman nilai-nilai agama, dan sistem pendidikan yang hanya identik mengedepankan ilmu duniawi saja jikalau ada porsinya sangatlah minim. Ketiga hal diatas mungkin hanyalah penyebab dasar, masih banyak lagi penyebab-penyebab lain yang mengakibatkan moral bangsa ini merosot. Tetapi, untuk memperbaiki moral bangsa Indonesia cukup dengan menghilangkan 3 penyebab diatas saja.
Pendidikan di Indonesia
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan.( UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.)
            Pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini masih menitik beratkan kepada penguasaan kurikulum dibandingakan dengan pembentukan karakter. Hal ini menyebabkan terbentuknya generasi bangsa yang ahli pikir namun terbelenggu dalam kerendahan moral. Meskipun pemerintah telah menerapkan kurikulum pendidikan berkarakter, namun dampak yang dirasakan belum mampu membebaskan generasi bangsa dari belenggu rendahnya moralitas dikarenakan minimnya pengawasan dari guru ataupun pihak-pihak sekolah lainnya.
            Oleh karena itu, perlulah sebuah pendidikan yang mampu mempertahankan dan mengembangkan karakter yang dapat menjadi teladan bagi yang lainnya. Sebab pada dasarnya, untuk menjadi individu yang bertanggungjawab di dalam masyarakat, setiap individu harus mengembangkan berbagai macam potensi yang ada dalam dirinya, terutama mengokohkan moral yang akan menjadi panduan bagi praksis mereka dalam lembaga.
Penerapan Pendidikan Karakter di Pesantren bagi Santri
            Pondok pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memadukan unsur-unsur pendidikan yang amat penting. Pertama, ibadah unuk menanamkan iman dan takwa terhadap Allah SWT. Kedua, tablig untuk menyebarkan ilmu. Ketiga, amal untuk mewujudkan kemasyarakatan dalam kehiduan sehari-hari.
            Dalam sejarahnya, perkembangan pondok pesantren memiliki sistem pendidikan dan pengajaran yang klasik. Penyelenggaraan sistem ini berbeda-beda antara satu pondok pesantren dengan pondok pesantren lainnya. Ada sebagian pondok pesantren yang masih mempetahankan sistem pendidikan semula namun kebanyakan, pondok pesantren saat ini semakin berubah, karena dipengaruhi oleh perkembangan pendidikan di tanah air, serta tuntutan dari masyarakat di lingkungan pondok pesantren itu sendiri.
            Sebagai pendidikan tertua di Indonesia, pesantren tidak hanya menyelenggarakan pendidikan berciri khas keagamaan saja, tetapi lebih jauh pesantren juga memainkan peran lebih sebagai basis dan benteng tangguh yang akan menjaga dan memperkukuh etika dan moral bangsa. Melihat hakekat pendidikan di pesantren yang mencoba mengajarkan akan pentingnya akhlak ataupun moral yang efisien dikarenakan sekurang-kurangnya pesantren telah memainkan peran sebagai berikut.
Yang pertama adalah membentuk kepribadian lewat penerapan pendidikan islam. Peran kultural pesantren telah diakui oleh banyak pihak bahkan sampai sekarang. Hal ini bisa terjadi karena sistem pendidikannya yang benar-benar memperhatikan pendidikan etika dan moral yang tinggi melalui nilai-nilai islam yang diajarkan, beberapa contoh yakni tawadhu’, tirakat, istiqomah, khidmah, dan lain-lain.
a.       Tawadhu’ (keta`atan)
Di pondok pesantren seluruh santri patuh dan taat dengan apa yang didawuhkan oleh kyai mereka. Segala peraturan yang dilarang keras oleh beliau tidak akan dilakukan oleh mereka. Disinilah mereka diajarkan untuk taat akan peraturan.
b.      Tirakat (kesederhanaan)
Santri selalu diajarkan hidup sederhana dan berkecukupan di pesantren, seperti halnya makan dan minum secukupnya, pakaian seadanya dan tidur hanya beralaskan tikar. Dalam hal ini, mereka diajarkan akan kesederhanaan.
c.       Istiqomah (kedisiplinan)
Segala sesuatu yang dilakukan oleh santri selalu berlandaskan keistiqomahan sebab semuanya telah terjadwalkan. Seperti contoh sholat 5 waktu, dzikir dan ta’lim. Karena telah terjadwal dengan rapi maka mereka diajarkan akan kedisiplinan.
d.      Khidmah (Keikhlasan dan kepedulian)
Selama menjadi seorang santri pastinya pernah mengamalkan ilmunya baik untuk temannya sendiri ataupun adik-adik kelasnya. Dari sinilah proses keikhlasan dan kepedulian dalam mengamalkan ilmu terbentuk.
Sebenarnya, masih banyak lagi nilai-nilai moral yang terkandung dalam pendidikan agama islam yang diterapkan di pondok pesantren, sebab munculnya agama islam adalah untuk memperbaiki akhlak ataupun moral umat manusia.
Yang kedua, pemantauan dalam penerapan pendidikan karakter sangat ditekankan.  Sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas keagamaan, melalui sifat dan bentuk pendidikan yang dimilikinya, pesantren mempunyai peluang lebih besar dalam menerapkan pendidikan karakter secara efektif dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Hal ini dikarenakan santri diwajibkan menetap di kawasan pesantren dan akan selalu dipantau oleh ustadz-ustadz mereka sepanjang hari. Berbeda dengan sekolah-sekolah luar yang pengawasannya hanya berada di kawasan sekolah, jikalau murid sudah meninggalkan kawasan tersebut, maka sudah tidak ada lagi pengawasan dari pihak sekolah. Mereka akan bebas berbuat apapun semaunya. 
Dan yang ketiga adalah sebagai benteng moralitas bangsa. Pesatnya kemajuan teknologi dan arus globalisasi telah melahirkan berbagai masalah-masalah baru, seperti meningkatnya tindak kriminalitas, seperti pembunuhan dan perampokan sadis, meningkatnya jumlah kenakalan remaja, berkembangnya pergaulan bebas dan praktek prostitusi, merosotnya kepedulian sosial masyarakat. Pesantren adalah lembaga pendidikan agama yang menitik beratkan mengenai masalah-masalah etika dan moral dengan benar-benar menyaring segala hal mengenai perkembangan sosial dan budaya yang disebabkan oleh arus globalisasi yang semakin deras.
            Karena itulah, hal-hal yang dapat merusak pola pikir dan budaya generasi bangsa Indonesia dapat dicegah dengan penerapan pendidikan karakter khususnya di pesantren, sebab tiga peran penting pesantren diatas tidak akan diterapkan di sekolah-sekolah lain walaupun diterapkan kecil kemungkinn dapat terlaksanana dengan maksimal dikarenakan situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan. Maka dari itulah, pesantren adalah jalan alternatif untuk mencetak generasi-generasi yang berkarakter dan pada akhirnya dapat membangun bangsa menuju jalan yang lebih baik./zen/

No comments:

Post a Comment