Wednesday, 6 April 2016

CERPEN PART II: AKU BUKANLAH... (2)

Baca juga kisah sebelumnya Part I : Tanpanya......
Baca juga kisah sebelumnya Part II : Aku Bukanlah... (1)

“Door!!!!” teriak Doni seraya mendorongku dari belakang.
“Apaan sih” ucapku marah.
“Kamu ngapain melamun sambil senyum-senyum sendirian kayak orang itu” ujarnya sambil menunjuk orang gila di samping tong sampah.
“Yee.. ya kamu tuh yang mirip, sama-sam peseknya” balasku
“Hahahaha...” tawa kami berdua.
Dia adalah Doni, anak berhidung pesek putra satu-satunya om Manaf, pamanku di Malang. Sejak kecil setiap kali paman mengunjungi papa untuk berbicara mengenai pekerjaan kita selalu bermain bersama, bertukar kartu Pokemon, bermain Monopoli ataupun bermain layang-layang di pinggir jalan sampai akhirnya di kejar-kejar oleh Pak Zhang, pengusaha kaya raya di komplekku, beserta anjing Rottweilernya karena layang-layang kami selalu tersangkut dan mengenai atap rumahnya. Mamaku selalu memarahiku jikalau aku sering-sering bermain keluar dengannya sebab baginya Doni adalah anak yang sangat bandel, sulit untuk diatur. Memang, menurutku pendapat mama lebih dari benar, sebab Doni memang rajanya bandel, namun dia juga sangat menyenangkan, itulah yang membuatku tetap ingin bermain bersamanya. Namun, semenjak om Manaf beralih profesi menjadi pengusaha mabel, kami sudah tidak pernah sekalipun bermain, jangankan bermain bertemupun hampir bisa dihitung dengan jari. Dari situlah hubungan pertemanan kami hilang ditelan waktu.
“Kau kesini sama siapa don?” tanyaku disela-sela candaan kami.
“Sendirian, aku lagi menginap di kost temanku tapi karena sekarang dia lagi ada kelas, yaa terpaksa mencari kesenangan di sekitar sini” jawabnya santai.
Tiba-tiba, akupun heran bercampur kaget, dari dalam saku jaket hitamnya, dia mengeluarkan sebuah bungkus kotak yang tak asing di mataku, bungkus berwarna putih bertuliskan “Pro Mild”.
“Nih, rokok!” ucapnya seraya menyodorkan sebungkus rokok di hadapanku.
“Luh, kamu merokok don?” tanyaku heran.
“Luh, kenapa? Kamu nggak merokok?” tanyanya balik.
“Nggak ah, uang kok dibakar” jawabku.
“Luh, mumpung kita masih remaja, nikmati masa-masa remajamu” ucapnya kepadaku.
“Nggak ah, nggak baik untuk kesehatan” tolakku lagi.
“Luh, aku kasih tahu ya, cowok yang merokok itu terlihat keren, selain itu rasanya juga nikmat kok, coba saja satu” paksanya lagi.
“Nggaklah” tolakku lagi.
“Coba saja satu, nanti kalau nggak enak ya jangan diterusin” ujarnya.
Detik demi detikpun berlalu, silih berganti merubahnya menjadi menit dan pada akhirnya jam demi jamku terlewati. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00, akupun sudah terlalu puas menikmati secangkir kopi bersama teman-temanku di Cyber cafe diiringi dengan gumpalan asap yang berkali-kali kami hembuskan dari beberapa batang rokok yang dimiliki Doni, maka dari itu kuputuskan untuk kembali lebih awal. Kiki dan Roni yang tadinya bermain PES di dalam akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kami di luar dan ikut terpengaruh dengan rayuan kata-kataku dan Doni untuk mencoba kenikmatan dari sebatang rokok.
.
Seperti hari-hari biasanya, kuparkirkan sepedahku disamping rumah, meminta pak Andi untuk tutup mulut dan masuk melalui pintu belakang. Namun, ada satu hal yang berbeda pada malam itu, terlihat seseorang sedang duduk sembari menonton televisi di ruang tengah. Matanya terlihat merah, terlihat bahwa dia sedang memaksakan dirinya untuk tetap terbangun untuk menunggu seseorang.
“Ri.. baru pulang?” tanya mama setelah menoleh kearahku.
“Iya ma... tadi anu.... habis.. itu.. belajar bareng teman-teman” jawabku terbata-bata
“Sini ri.. duduk sini!” pintanya kepadaku.
“Iya ma” jawabku seraya berjalan menuju shofa di samping mama.
“Ri, kamu sudah tahu kan nilai raport kamu berapa? Kalau papamu tahu bagaimana? Kenapa sih kamu sulit sekali untuk belajar? Setaip hari keluar, main, pulang-pulang selalu larut malam. Berani berbohong lagi sama mama” tanyanya bertubi-tubi.
“Tapi ma, Riokan memang benar-benar belajar” sangkalku.
“Lagi-lagi berbohong, sudahlah jangan ngeles, setelah pembagian raport masih belaja? belajar apa sampai jam segini? Memangnya mama tidak tau, setiap hari kamu pulang larut malam? Memangnya mama tidak memperhatikanmu?” ucapnya dengan nada meninggi.
Mendengar kata-kata tersebut dengan nada tinggi, secara spontan nadakupun ikut meninggi.
“Memangnya mama pernah memperhatikanku? Tadi saja mama tidak datang di acara penerimaan raportku” ucapku dengan nada tinggi.
Tiba-tiba, tanpa kusadari mama menarik tanganku dan mendekatkan telapak tanganku di hidungnya. Awalnya aku tak tahu apa maksudnya melakukan ini, namun aku baru tersadar nada tinggiku tadi mengeluarkan sisa-sisa bau asap rokok yang masih melekat di mulutku dan mamapun menangkap bau tersebut. Untuk menyakinkan anggapannya, dilakukanlah hal tersebut.
            “Kamu merokok?” tanyanya kaget.
            “Tidak ma” jawabku takut.
“Jadi, setiap malam kau merokok dengan teman-temanmu sampai larut malam seperti ini? Kau bukannya membahagiakan kami dengan prestasi baikmu di sekolah, malah melakukan hal-hal yang tidak benar seperti ini?” sentaknya sembari memegang lenganku erat-erat.
Akupun hanya menundukkan kepalaku merasa sedikit bersalah dengan apa yang telah kuperbuat.
“Kau tau? Kau disini hanya numpang makan dan sekolah saja. Tujuanmu disini itu untuk belajar sungguh-sungguh biar masa depanmu cerah. Orang tua aslimu menitipkanmu disini agar kau menjadi anak yang pintar dan kelak bisa menjadi dokter bukannya malah bermain dengan anak-anak yang tidak benar diluar sana.
“Orang tua asli? Berarti selama ini?” ucapku dalam hati
Mendengar kata-kata itu, memaksakan air mata yang tadinya terbendung di pelupuk mata keluar cukup deras. Kutahan air mata itu dan kutatap tajam-tajam mata bening mamaku yang saat itu sudah diselimuti genangan air. Diapun membalas tatapan tersebut dengan tajam sampai akhirnya akupun tak kuasa menahan semua itu, benar-benar sakit. Akupun berlari menuju kamarku sembari menahan isak tangisku. Kurebahkan badanku seketika di kasurku. Aku menangis sekeras yang kubisa.
.
Jadi memang selama ini, setelah apa saja yang telah mama perbuat dan berikan terhadapku tak pernah dengan rasa tulus dan ikhlas, hal ini karena dia tidak menghendakiku ada dikehidupannya. Namun siapa sebenarnya aku? Siapa orang tuaku? Lalu siapa papa sebenarnya? Mengapa dia begitu menyayangiku? Dan mengapa mama layaknya membenciku walaupun rasa ini disimpannya erat-erat di dalam hatinya? Apa yang sebenarnya terjadi?

Ya Rabb, Apa yang sebenarnya akan Engkau tuliskan di dalam sejarah kehidupanku ini ya rabb.. hal ini terlalu pahit untuk dirasakan...
Namun, terlalu manis untuk hanya sekedar dikhayal ya rabb...
Mengapa harus ada kebahagiaan jikalau semua itu hanyalah sandiwara belaka, siapakah hamba? Siapakah mereka? Siapakah semua?Akankah engkau tunjukkan suratanmu?  

Bersambung..........

No comments:

Post a Comment