Baca juga kisah sebelumnya Part II : Aku Bukanlah... (1)
“Door!!!!” teriak Doni seraya mendorongku dari belakang.
“Apaan sih” ucapku marah.
“Kamu ngapain melamun
sambil senyum-senyum sendirian kayak orang itu” ujarnya sambil menunjuk orang
gila di samping tong sampah.
“Yee.. ya kamu tuh yang mirip, sama-sam peseknya” balasku
“Hahahaha...” tawa kami berdua.
Dia adalah Doni, anak berhidung pesek putra satu-satunya om
Manaf, pamanku di Malang. Sejak kecil setiap kali paman mengunjungi papa untuk
berbicara mengenai pekerjaan kita selalu bermain bersama, bertukar kartu
Pokemon, bermain Monopoli ataupun bermain layang-layang di pinggir jalan sampai
akhirnya di kejar-kejar oleh Pak Zhang, pengusaha kaya raya di komplekku, beserta
anjing Rottweilernya karena layang-layang kami selalu tersangkut dan mengenai atap
rumahnya. Mamaku selalu memarahiku jikalau aku sering-sering bermain keluar
dengannya sebab baginya Doni adalah anak yang sangat bandel, sulit untuk
diatur. Memang, menurutku pendapat mama lebih dari benar, sebab Doni memang
rajanya bandel, namun dia juga sangat menyenangkan, itulah yang membuatku tetap
ingin bermain bersamanya. Namun, semenjak om Manaf beralih profesi menjadi
pengusaha mabel, kami sudah tidak pernah sekalipun bermain, jangankan bermain
bertemupun hampir bisa dihitung dengan jari. Dari situlah hubungan pertemanan kami
hilang ditelan waktu.
“Kau kesini sama siapa don?” tanyaku disela-sela candaan
kami.
“Sendirian, aku
lagi menginap di kost temanku tapi karena sekarang dia lagi ada kelas, yaa terpaksa
mencari kesenangan di sekitar sini” jawabnya santai.
Tiba-tiba, akupun heran bercampur kaget, dari dalam saku
jaket hitamnya, dia mengeluarkan sebuah bungkus kotak yang tak asing di mataku,
bungkus berwarna putih bertuliskan “Pro Mild”.
“Nih, rokok!” ucapnya seraya menyodorkan sebungkus rokok di
hadapanku.
“Luh, kamu merokok don?” tanyaku heran.
“Luh, kenapa? Kamu nggak merokok?” tanyanya balik.
“Nggak ah, uang kok dibakar” jawabku.
“Luh, mumpung kita masih remaja, nikmati masa-masa
remajamu” ucapnya kepadaku.
“Nggak ah, nggak baik untuk kesehatan” tolakku lagi.
“Luh, aku kasih
tahu ya, cowok yang merokok itu terlihat keren, selain itu rasanya juga nikmat
kok, coba saja satu” paksanya lagi.
“Nggaklah” tolakku lagi.
“Coba saja satu, nanti kalau nggak enak ya jangan
diterusin” ujarnya.
Detik demi detikpun berlalu, silih berganti merubahnya
menjadi menit dan pada akhirnya jam demi jamku terlewati. Jarum jam menunjukkan
pukul 09.00, akupun sudah terlalu puas menikmati secangkir kopi bersama teman-temanku
di Cyber cafe diiringi dengan gumpalan asap yang berkali-kali kami hembuskan
dari beberapa batang rokok yang dimiliki Doni, maka dari itu kuputuskan untuk
kembali lebih awal. Kiki dan Roni yang tadinya bermain PES di dalam akhirnya
memutuskan untuk bergabung dengan kami di luar dan ikut terpengaruh dengan
rayuan kata-kataku dan Doni untuk mencoba kenikmatan dari sebatang rokok.
.
Seperti hari-hari biasanya, kuparkirkan sepedahku
disamping rumah, meminta pak Andi untuk tutup mulut dan masuk melalui pintu
belakang. Namun, ada satu hal yang berbeda pada malam itu, terlihat seseorang
sedang duduk sembari menonton televisi di ruang tengah. Matanya terlihat merah,
terlihat bahwa dia sedang memaksakan dirinya untuk tetap terbangun untuk
menunggu seseorang.
“Ri.. baru pulang?” tanya mama setelah menoleh kearahku.
“Iya ma... tadi anu.... habis.. itu.. belajar bareng
teman-teman” jawabku terbata-bata
“Sini ri.. duduk sini!” pintanya kepadaku.
“Iya ma” jawabku seraya berjalan menuju shofa di samping
mama.
“Ri, kamu sudah
tahu kan nilai raport kamu berapa? Kalau papamu tahu bagaimana? Kenapa sih kamu
sulit sekali untuk belajar? Setaip hari keluar, main, pulang-pulang selalu
larut malam. Berani berbohong lagi sama mama” tanyanya bertubi-tubi.
“Tapi ma, Riokan memang benar-benar belajar” sangkalku.
“Lagi-lagi
berbohong, sudahlah jangan ngeles, setelah pembagian raport masih belaja? belajar
apa sampai jam segini? Memangnya mama tidak tau, setiap hari kamu pulang larut malam?
Memangnya mama tidak memperhatikanmu?” ucapnya dengan nada meninggi.
Mendengar kata-kata tersebut dengan nada tinggi, secara
spontan nadakupun ikut meninggi.
“Memangnya mama
pernah memperhatikanku? Tadi saja mama tidak datang di acara penerimaan
raportku” ucapku dengan nada tinggi.
Tiba-tiba, tanpa kusadari mama menarik tanganku dan
mendekatkan telapak tanganku di hidungnya. Awalnya aku tak tahu apa maksudnya
melakukan ini, namun aku baru tersadar nada tinggiku tadi mengeluarkan
sisa-sisa bau asap rokok yang masih melekat di mulutku dan mamapun menangkap
bau tersebut. Untuk menyakinkan anggapannya, dilakukanlah hal tersebut.
“Kamu
merokok?” tanyanya kaget.
“Tidak
ma” jawabku takut.
“Jadi, setiap malam
kau merokok dengan teman-temanmu sampai larut malam seperti ini? Kau bukannya
membahagiakan kami dengan prestasi baikmu di sekolah, malah melakukan hal-hal
yang tidak benar seperti ini?” sentaknya sembari memegang lenganku erat-erat.
Akupun hanya menundukkan kepalaku merasa sedikit bersalah
dengan apa yang telah kuperbuat.
“Kau tau? Kau disini
hanya numpang makan dan sekolah saja. Tujuanmu disini itu untuk belajar
sungguh-sungguh biar masa depanmu cerah. Orang tua aslimu menitipkanmu disini
agar kau menjadi anak yang pintar dan kelak bisa menjadi dokter bukannya malah
bermain dengan anak-anak yang tidak benar diluar sana.
“Orang tua asli? Berarti selama ini?” ucapku dalam hati
Mendengar kata-kata itu, memaksakan air mata yang tadinya
terbendung di pelupuk mata keluar cukup deras. Kutahan air mata itu dan kutatap
tajam-tajam mata bening mamaku yang saat itu sudah diselimuti genangan air. Diapun
membalas tatapan tersebut dengan tajam sampai akhirnya akupun tak kuasa menahan
semua itu, benar-benar sakit. Akupun berlari menuju kamarku sembari menahan
isak tangisku. Kurebahkan badanku seketika di kasurku. Aku menangis sekeras
yang kubisa.
.
Jadi memang selama ini, setelah apa saja yang telah mama
perbuat dan berikan terhadapku tak pernah dengan rasa tulus dan ikhlas, hal ini
karena dia tidak menghendakiku ada dikehidupannya. Namun siapa sebenarnya aku?
Siapa orang tuaku? Lalu siapa papa sebenarnya? Mengapa dia begitu menyayangiku?
Dan mengapa mama layaknya membenciku walaupun rasa ini disimpannya erat-erat di
dalam hatinya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Ya Rabb, Apa yang
sebenarnya akan Engkau tuliskan di dalam sejarah kehidupanku ini ya rabb.. hal
ini terlalu pahit untuk dirasakan...
Namun, terlalu
manis untuk hanya sekedar dikhayal ya rabb...
Mengapa harus
ada kebahagiaan jikalau semua itu hanyalah sandiwara belaka, siapakah hamba?
Siapakah mereka? Siapakah semua?Akankah engkau tunjukkan suratanmu?
Bersambung..........

No comments:
Post a Comment