Thursday, 24 May 2018

CARDBOARD GREENHOUSE (Design Rumah Pre-Fabrikasi)


Rumah sederhana masa depan dengan harga terjangkau
namun dengan mutu terkontrol


Rumah hunian adalah salah satu kebutuhan pokok bagi setiap orang.  Sebab, selain sebagai tempat untuk berlindung, rumah juga sebagai tempat kembali untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun seiring berjalannya waktu, terdapat berbagai kendala dalam memenuhi kebutuhan rumah hunian, khususnya di Indonesia. Baik itu keterbatasan lahan, meningkatnya harga lahan, ataupun tingginya biaya pembangunan tiap tahunnya.

Pesatnya angka pertumbahan penduduk yang tidak sebanding dengan penyediaan sarana perumahan merupakan faktor utama yang menyebabkan permasalahan perumahan dan permukiman di Indonesia selalu menjadi sorotan utama pihak pemerintah. Kebutuhan rumah di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 800.000 sampai 900.000 unit per tahunnya. Namun, pertumbuhan pemenuhan rumah baru masih sangat terbatas, yakni sekitar 700.000 unit per-tahunnya (Yudohusodo 1991). Mengapa bisa terjadi demikian? Tentunya masalah ini tidak datang begitu saja, selalu ada berbagai faktor dibaliknya.
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan rakyat adalah daya beli masyarakat yang relatif rendah dikarenakan tingginya harga rumah yang ditawarkan. Hal ini tidak bisa dipungkiri, sebab harga lahan yang melambung tinggi per-tahunnya, disusul dengan biaya pembangunan yang tidak murah memaksa pemerintah untuk menekan harga tiap rumah tanpa diimbangi dengan fasilitas yang memadai.
Di tahun 2015, presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki ambisi besar untuk memangkas kekurangan pasokan perumahan 2015-2019. Ambisi ini diwujudkan dengan mencanangkan program satu juta rumah sejak awal pemerintahannya. Targetnya, angka kekurangan pasokan rumah dapat berkurang dari 11,4 juta pada 2015 menjadi 6,8 juta unit pada tahun 2019. Namun, belum setengah jalan, program Jokowi ini harus menghadapi sejumlah tantangan, diantaranya membengkaknya anggaran subsidi.
Pemerintah memberikan subsidi untuk mewujudkan program satu juta rumah berupa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Fasilitas ini diberikan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). MBR pun dapat memperoleh fasilitas Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dengan bunga 5 persen yang bersifat tetap sepanjang jangka waktu kredit, uang muka mulai dari 1 persen, dan jangka waktu pinjaman (tenor) maksimal 20 tahun dengan harga tiap unit rumahnya mencapai 100-140 juta (CNNIndonesia 2017).
Ketertarikan masyarakat yang cukup tinggi terhadap program inipun membuat kebutuhan anggaran FLPP meningkat pada 2015 dan 2016. Akibatnya bank penyalur FLPP, yakni PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk pun menalangi kekurangan dana tersebut sebesar Rp900 miliar.
Untuk megoptimalkan program satu juta rumah, pemerintah membutuhkan komponen bangunan yang tidak sedikit, secara otomatis dengan harga yang tidak murah. Selanjutnya memaksakan diri untuk menarik animo masyarakat dengan iming-iming bunga dan uang muka yang cukup rendah serta jangka waktu pinjaman yang cukup lama dengan mengorbankan anggaran subsidi dan menambah hutang negara.
Sebenarnya, pemerintah tidak perlu membangun rumah kualitas tinggi dengan harga yang cukup tinggi pula, sebab objek pemerintah adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pendekatan yang sebenarnya harus dilakukan adalah melalui penerapan metode industrialisasi dengan sistem membangun prefabrikasi dengan tujuan untuk memproduksi komponen-komponen bangunan secara massal dengan harga murah namun dengan mutu terkontrol.

Rumah Prefabrikasi (prefab)
Rumah Prefabrikasi (prefab) merupakan suatu konsep rumah yang disusun dari komponen-komponen buatan/rakitan pabrik menjadi panel modular. Modul yang sudah dicetak di pabrik dibawa ke lokasi bangunan kemudian disusun sesuai konsep desain (Astutiek. 1996:19). Seperti halnya kardus (cardboard) yang bisa dibentuk memiliki ruang ataupun dilipat untuk mempermudah peletakan dan proses pembawaan. Karena itulah rumah prefab memiliki system aplikasi yang mudah dan cepat.
Dalam pembangunan sebuah rumah secara konvensional dapat menghabiskan begitu banyak material yang diambil dari alam tanpa memikirkan keseimbangan lingkungan. Apabila hal ini dilakukan terus-menerus dalam jumlah besar seperti dalam pembangunan perumahan maka lambat laun akan terjadi kerusakan ekologi yang berdampak pada pemanasan global dan bencana alam. Padahal pelestaran lingkungan merupakan sebuah kewajiban bagi konsultan arsitek dengan membuat konsep desain yang sustainable.
Rumah prefab (prefabrikasi) merupakan konsep rumah solutif untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat Indoesia akan hunian dengan mengutamakan prinsip greenhouse. Mengapa demikian? sebab material yang digunakan berasal dari bahan-bahan yang ramah lingkungan dan minim akan limbah sehingga bisa mengurangi emisi CO2. Tidak hanya itu, dalam tahap pembangunannyapun tidak membutuhkan waktu yang lama sebab semua komponen bangunan telah dicetak terlebih dahulu di pabrik dan dapat langsung diaplikasikan di site bangunan.
Dengan berbagai keunggulan dari konsep rumah dengan sistem prefabrikasi memotivasi kami untuk mengembangkan sebuah konsep rumah prefabrikasi berupa panel dinding ber-engsel dan memiliki roda, dimana dinding merupakan bagian yang cukup signifikan dalam proses konstruksi sebab dalam pengerjaannya dapat mempengaruhi kecepatan pembangunan. Dinding panel yang dimaksud merupakan gabungan antara satu panel dengan panel lain disambungkan dengan engsel yang di pasang pada bagian kiri dan kanan panel ditambah dengan pemasangan roda pada bagian atas dan bawah panel. Hal ini bertujuan agar panel-panel dinding tersebut dapat menyatu dan dibuka tutup dengan cepat, dengan cara melipat dan menggesernya.

Konsep, teknologi, dan metode konstruksi rumah
Desain bangunan rumah sederhana yang kami sebut Cardboard Greenhouse ini memiliki sistem rangka baja profil persegi dengan ukuran 6x6 cm yang terlebih dahulu disusun dilokasi konstruks sebelum pemasangan panel dinding. Seluruh rangka bangunan ini baik pasak, kolom, balok, hingga rangka kuda kuda menggunakan baja tersebut, dengan tujuan agar bangunan lebih ringan, praktis, kuat, dan efisien dalam pengerjaan serta memiliki ketahanan yang lebih lama.
Pada teknik pemasangan pondasi, bagian bawah tiang pondasi memiliki plat yang langsung menempel di atas permukaan  tanah, plat tersebut memiliki sambungan tiang lagi yg menancap ke dalam tanah kurang lebih 70cm. Sistem pondasi ini kami adopsi dari rancangan pondasi strauss namun dalam skala yg lebih kecil dan teknik yg sedikit berbeda.
Untuk metode penyambungan tiap frame rangka, seluruhnya menggunakan baut dengan diameter 10mm yang akan dipasangkan pada seluruh plat yang sudah dilas pada tiap batang framenya mulai dari sambungan pondasi ke pasak, sambungan antara balok dengan kolom, serta sambungan antara ringbalok dengan rangka kuda-kuda, begitupula sambungan antar rangka kuda-kuda.









Pada bagian lantai, kami desain tidak langsung bersentuhan dengan tanah yakni 30cm di atas permukaan tanah sebab dapat menurunkan ketahanan plat dan menghindari genangan air yang bisa saja terjadi pada bagian rumah. Untuk lapisan lantai sendiri, digunakan bahan kalsi floor dengan ketebalan 20mm yang mampu menahan beban hingga 800kg per panel (600x1200mm).
Panel dinding yang kami gunakan memiliki bahan-bahan yang mudah di dapat serta ramah lingkungan dalam penggunaannya. Lapisan-lapisan panel ini terdiri dari dua komponen yang berbeda, yakni sabut kelapa dengan ketebalan 3cm dan multiplex dengan ketebalan 1,5cm. Penggunaan sabut kelapa yang diletakkan di bagian dalam panel yakni antara multiplex bagian depan dan belakang ini bukan tanpa alasan, sebab selain mudah didapatkan, sabut kelapa juga merupakan salah satu bahan insulasi terbaik agar panas matahari ataupun suara bising tidak langsung masuk ke dalam rumah (Khuriati 2006:16). Untuk bagian luar panel kami menggunakan multiplex dengan ketebalan masing masing 1,5 cm sebagai penutup sabut kelapa. Selain itu, bagian multiplex kami lapisi dengan waterproof sehingga dapat menahan air rembesan hujan.







Untuk sambungan antar panel, kami menggunakan engsel untuk memungkinkan panel-panel tersebut dapat dilipat menjadi satu tanpa harus melepasnya. Kami juga menambahkan roda pada bagian bawah dan atas panel, sehingga memudahkan dalam pelipatan dan memungkinkan penggeseran dinding meskipun saat panel dalam keadaan terpasang pada frame. Karena setiap panel disambungkan dengan engsel maka sambungan antar panel memiliki celah walaupun sedikit. Hal ini dapat diantisipasi dengan menambahkan sealent agar rembesan air hujan tidak dapat masuk melalui celah-celah panel. Tipe panel yang kami desain memiliki beberapa macam, yakni panel polos, panel pintu dan jendela. Panel jendela dan pintu memliki spesifikasi tersendiri yang nantinya langsung bisa dipasang dalam panel tanpa kusen dan hanya menggunakan engsel dengan tujuan untuk memudahkan proses pemasangan maupun pelepasan.


Pada bagian atap, kami menggunakan atap pelana agar sirkulasi udara yang berada dalam rumah lebih luas. Pada dinding gewel pun, kami juga menggunakan sitem panel yang disambungkan dengan engsel sehingga dalam proses penyimpanan ataupun saat proses pengangkutan gewel dapat dilipat dengan rapi. Untuk proses pemasangan dinding gewel pada kuda, kami menggunakan begel kalung yang melingkari sisi-sisi gewel.
Untuk kuda-kuda kami menggunakan profil yang sama dengan frame bangunan, begitu pula sistem sambungan plat. Pada bagian penutup atap, kami menggunakan daun alang-alang yang dikombinasikan dengan reng dari bamboo, sehingga saat pemasangan hanya tinggal mengikat reng yang sudah ditempel pada daun alang-alang ke bagian kuda kuda.
Frame yang digunakan pada kamar mandi dan wc sama dengan frame pada bangunan utama, namun yang membedakannya hanya pada bagian material panelnya saja. Panel dinding yang kami gunakan pada kamar mandi dan wc menggunakan bahan pvc. Tidak hanya itu, panel yang digunakan pada bagian lantai berbahan fiber yang memiliki anti air dan tahan lama.

Pada sistem pencahayaan kami menggunakan sistem litter of light. Liter of light merupakan pencahayaan alami menggunakan bahan botol yang diisi dengan air. Pemutih ditambahkan ke botol untuk menghambat pertumbuhan alga atau lumut di dalamnya (Bansod 2015:256). Selanjutnya, botol dipasang pada atap bangunan untuk memanfaatkan pencahayaan energy cahaya matahari saat siang, namun pada malam hari, pencahayaan tetap menggunakan listrik agar pencahayaan tetap maksimal. Alasan utama penggunaan sistem pencahayaan litter of light adalah untuk menghemat penggunakan listrik pada siang hari.

Pengaplikasian konstruksi Cardboard Greenhouse
Tahapan dalam pembangunan Cardboard Greenhouse
1.      Perancangan desain bangunan
2.      Pembuatan model (prefabrikasi)
3.      Perakitan modul
4.      Pengiriman
5.      Konstruksi lapangan
Dalam konstruksi lapangan, bangunan yang masuk dalam kategori fabricated building ini hanya membutuhkan waktu cukup singkat yakni sekitar 18-24 jam dan hanya membutuhkan pekerja sekitar 5-7 orang untuk menyusun seluruh komponen bangunan.
Biaya yang dibutuhkapun tidak begitu tinggi seperti halnya rumah-rumah dengan sistem pembangunan konvensional. Sebab, tidak begitu banyaknya jenis material yang digunakan serta penggunaan bahan dan material yang murah sesuai dengan konsep green building, maka biaya yang dikeluarkanpun hanya sekitar 19-23 juta tiap rumahnya yakni 10-15 persen dari rumah konvensional.
Namun, rumah sederhana yang memadukan antara konsep fabricated building dan green building ini tidak bisa diterapkan di tengah-tengah kota besar seperti di pusat perkotaan Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. Lokasi yang sedikit jauh dengan keramaian dan bangunan-bangunan tinggi akan lebih tepat dan efisien seperti di pinggiran kota ataupun daerah pedesaan yang padat penduduk.
Inovasi yang kami kembangkan ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan kebutuhan rumah khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Selain itu, juga dapat mengatasi persoalan pokok pemerintah mengenai pembengkakan subsidi yang diakibatkan oleh program satu juta rumah yang terkesan terlalu meringankan masyarakat tanpa memperhatikan kondisi pembangunan dan sosial yang ada saat ini.



Daftar pustaka
Astutiek. 1996, Studi Alternative Pemakaian Sistem Prefabrikasi Pada Perumahan Secara Massal, Hasil Penelitian Universitas Tadulako.
CNN, Indonesia 2017. Meramal Nasib Program Satu Juta Rumah Jokowi, https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170620165020-78-223082/meramal-nasib-program-satu-juta-rumah-jokowi.
Lutfiah, 2005, Rumah Tinggal Sistem Prefabrikasi di Palu, Hasil Penelitian Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako.
Yudohusodo, S, Et, a11,1991, Rumah Untuk Rakyat. Penerbit Inkoppel, Jakarta.
Zainal AZ, 1993, Rumah Papan Bongkar Pasang, Pt. Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Bansod, Vaibhav Rajendra, 2015. Study on Solar Water Bulb-a Liter of Light, International Journal for Innovative Research in Science & Technology Akola. 






No comments:

Post a Comment