Baca kisah sebelumnya Cerpen Part I: Tanpanya.....
Cyber.net,
tempat paling istimewa anak-anak, tempat
dimana di dalamnya berisikan ribuan kesenangan bagi anak-anak kota Saworoto, letaknya sekitar setengah jam dari rumahku jikalau
ditempuh dengan sepeda motor. Beberapa bermain game
online dari pagi hingga larut malam, beberapa pula hanya sekedar singgah
untuk melihat-lihat dikarenakan tak memiliki cukup uang. Tak jarang pula beberapa orangtua
berteriak-teriak dengan membawa sapu lidi menjemput anaknya yang seharian penuh tak pulang ke rumah
hanya karena ingin menyelesaikan misi
Point Blank mereka. Walaupun sering dilarang oleh orangtua mereka, namun tempat ini tak pernah sepi dikunjungi anak-anak. Selalu ramai
anak-anak, selalu pula ramai oleh teriakan orangtua mereka.
.
Selain
menyediakan game online, surganya anak ini
juga menyediakan Playstations 2,
game kesukaanku dan teman-temanku. Hampir setiap hari sepulang sekolah kami
datang ke tempat ini untung menghilangkan
stress setelah seharian mendengarkan ceramah dari guru-guru yang sering kali
membuat kepalaku serasa pecah, hancur berkeping-keping.
“Ri.. ayo pilih
tim mana!!” ucap Roni sedikit marah.
“Oh.. maaf aku lagi melamun” jawabku
“hmmm.. takut dimarahin orangtuamu za.. hasil
raportmu jelek” ledek Kiki.
“nggak lah.. aku pilih tim Barcelona saja..” ucapku
mengalihkan perhatian.
“Oke, aku nggak akan kalah lagi” ujar Roni
bersemangat.
Hal
yang saat ini kulamunkan bukanlah tim apa yang harus kugunakan untuk
mengalahkan Roni di pertandingan PES 2010 ini, bukan pula takut akan kemarahan
orangtuaku disebabkan nilai jelek yang kuperoleh. Hal ini mengenai
orangtuaku, namun bukan itu. Memang apa yang dialami Lutfi lebih
memperihatinkan dari pada apa yang aku alami, namun hal yang lebih memperihatinkan lagi adalah
mengapa mamaku tidak datang untuk mengambilkan raportku padahal dia ada di
rumah? Mengapa dia menyuruh Pak. Andi? Ku teringat dengan kata demi kata yang
dilontarkan Pak. Andi di sekolah siang tadi sebelum aku datang ke tempat ini.
“Ri.. ini, pak Andi udah ambil
raport kamu..
yok pulang!” ujarnya sambil menyodorkan raportku.
“Mama mana?” tanyaku penasaran.
“Mama lagi nggak enak badan katannya” jawabnya
pelan.
“loh, tadi pagi masih sehat-sehat aja kog”
sangkalku.
“Gak tau ri..
tadi mama kamu bilang gitu..” jawabnya sedikit bingung.
“Ya udah.. Pak Andi pulang dulu
saja, Rio masih banyak urusan sama temen-temen Rio” ucapku.
“Tapi, kata mama Rio..” ujarnya terputus.
“Gak papa, bilang saja Rio ada tugas kelompok”
selatku.
Bagiku
alasan jikalau mama kurang enak badan sangatlah tidak logis, sebab pagi tadi
mama tidak begitu terlihat pucat ataupun lemah. Selain itu, dia juga mengiyakan permintaanku tadi pagi ataukah
jawabannya tadi hanyalah sebatas abang-abang
lambe supaya aku senang? Aku benar-benar sangatlah kecewa dengan apa yang
terjadi siang ini khususnya pada mamaku. Kugali
dan kugali terus jawaban mengapa
dia tidak bisa
datang di
acara pembagian raportku.
.
Akupun teringat sebuah kejadian beberapa bulan lalu
mengenai mamaku. Selama berhari-hari dia tidak mau sekali pun keluar dari
rumah. Hal ini disebabkan ejekan yan dilontarkan teman-teman mama mengenai
keberangkatannya menuju lokasi arisan di komplek tetangga yang saat itu diantar
oleh pak Andy dengan mengendarai sepedah motor. Awalnya mama memang tidak mau
dengan alasan gengsi dengan teman-temannya yang berangkat menggunakan mobil,
namun karena mobil kami digunakan oleh papa dinas ke luar kota akhirnya dengan
berat hati mama meminta pak Andy mengantarkannya. Karena itulah muncul
gosip-gosip miring tentang image mama di kalangan ibu-ibu komplek.
.
Apakah mama tak ingin kejadian tersebut terulang kembali
dan mengorbankan kebahagiaan anaknya demi menghindari rasa gengsi? Apakah mama
tidak memikirkan perasaan anaknya saat ini? Apakah mama tidak memahami diriku
saat ini? Ataukah mama memang tidak memperdulikanku?
“Goal…!!” teriak Roni. “Akhirnya aku bisa
mengalahkanmu” lanjutnya.
“Emmm… Aku lagi gak enak badan nih”
sahutku. “Nih ki.. kamu aja yang main” ucapku kepada Kiki.
“Beneran nih..? gak biasanya kamu kayak gini” ucap Kiki.
“Udahlah.. gak usah dipikirin.. aku ke depan dulu ya!”
sahutku.
Cyber.net memang benar-benar tempat yang sangat istimewa.
Bagaimana tidak? Tepat di depan kanan lokasi tersebut tertata rapi beberapa
kursi bulat mengitari meja-meja yang telah dihiasi oleh payung agar siapa saja
yang duduk disana tidak tersengat oleh panasnya sinar matahari. Selain
menyediakan game online cyber.net juga menyediakan sebuah cafe, Cyber cafe.
Lokasinya memang begitu indah, berada di samping jalan namun diatas sebuah bukit sebab itulah
sejauh mata memandang terlihat jelas hijaunya perkebunan dan ladang rumput para
petani-petani desa. Diujung panorama indah tersebut tampak pula Mahameru yang,
puncak tertinggi gunung Semeru yang selalu dijadikan tempat wisata rujukan bagi
siapa saja yang mengunjungi Malang. Tak ayal, jikalau tempat tersebut ramai
oleh pengunjung yang hanya sekedar ingin bersantai sendirian dengan secangkir
kopi sambil menikmati keindahan alamnya atau mungkin untuk bensenda gura dengan
teman ataupun pacar.
“Mbak, pesan susu hangat satu!” pesanku pada penjaga cafe.
“Masnya duduk dimana?” sahutnya.
“Emmmm...” gumamku
sambil mengarahkan pandanganku ke sekitar. “Di pojok sana saja mbak” jawabku
Sudah beberapa menit lamanya aku duduk termenung
sendirian di bawah payung berwarna merah sambil menikmati hilir angin yang
telah meniupkan jutaan kenanganku bersama keluargaku. Angin ini mengingatkanku
kenangan 6 tahun silam saat kami pulang dari kota kelahiran Ayahku, Tuban,
untuk menghadiri acara keluaga di rumah nenekku.
“Sebelum pulang kita mau kemana nih?” tanya papa saat
mengemudikan mobilnya.
“Jatim Park yuk pa” sahutku gembira.
“Tahun kemarinkan udah” sangkal papaku.
“Itukan kemarin pa, sekarang pasti ada yang beda”jawabku
tak mau kalah.
“Papa tahu wisata yang lebih keren dari pada Jatim Park”
ucap papaku.
“Memangnya ada pa?” tanya kak Vika, kakak tertuaku.
“Luh.. ada lah. Kalian nggak tahu kan?” tanya papa.
“Apa pa?” tanya kak Vella dan kak Vivi bersamaan.
“Lihat aja habis ini.” Jawabnya santai.
Siang itu sepulang dari kota Tuban, aku, papa, mama,
semua kakakku dan Bi Atik sedang menuju sebuah tempat wisata yang sudah
direncanakan oleh papa. Kami tak tahu wisata apa dan dimana lokasinya, hanya
memasrahkannya kepada papa sebab satu bulan yang lalu papa memang sudah
berjanji untuk pergi touring sekeluarga.
.
Tak selang beberapa menit setelah kita memasuki kota
Batu, akhirnya sampailah di lokasi yang dikatakan oleh papa.
“Kusuma Agro Wisata” bacaku pelan tulisan yang dibentuk
dari semak rerumputan.
“Selamat datang di Kusuma Agro Wisata”ucap papa.
“Mana wisatanya? Tanyaku.
“Oh.. jadi kita mau piknik sambil memetik apel pa? Tanya
kak Vika untuk menyakinkan.
“Ya.. semacam itulah” jawabnya santai.
Kicauan burung terdengar begitu merdu, sahut menyahut tak
ibaratnya lantunan irama nan syahdu, diiringi dengan hembusan angin yang
menerpa dedaunan pohon-pohon rindang menari-nari layaknya tarian bidadari. Hamparan
perkebunan apel dan stroberi terlihat hijau menyejukakan hati, dihiasi oleh panorama
indahnya pegunungan Panderman dan puncak gunung Arjuna yang melengkapi
keindahan kala itu. Di bawah pepohonan inilah kami meletakkan sebuah alas untuk
dijadikan sebagai tempat bersantai, sejuk dan tenang. Papa memang orang yang
paling hebat dalam memiih lokasi bersantai yang tepat.
“Ri, petik apel disana yuk!” ajak kak Vika, kakak
tertuaku.
“Emangnya boleh kak?” tanyaku polos.
“Hahahahaha, terus
kalau nggak dipetik diapakan? Wong namanya saja wisata petik apel” ledeknya.
“Ayo..!!” ucapku bersemangat.
“Aku juga ikut” sahut kak Vivi.
“Aku juga” begitu pula kak Vella.
“Ayo pa... papa juga harus ikut” ucapku sambil menarik
tangan papa.
“Iya papa ikut” jawabnya pasrah.
“Mama dan bi Atik juga ya” ajakku.
Bi Atik yang kala itu ingin berdiri tuk menyanggupi
ajakanku, seketika langsung kembali duduk dikarenakan tarikan tangan mama yang
mengisyaratkan untuk tetap di tempat tanpa mengiyakan ajakanku. Melihat hal
itu, hatiku berdentum keras, sekali namun menyakitkan. Di ruang kebahagiaan
ini, mengapa masih ada setetes noda yang harus aku rasakan terlebih lagi dari
seorang mama. Mengapa dia tidak mau membagi kebahagiaan dengan aku dan yang
lainnya.
“Bi Atik disini saja nemenin mama jaga barang bawaan
kalian” Ucap mama.
“Ya mama..” ucap kak Vivi sedikit kecewa.
“Ayo semua... kita lomba nyari buah apel yang paling
manis!” ucap papa dari kejauhan.
Ajakan itulah yang membuat beban sakit ini serasa terbang
melayang ke angkasa, kebahagiaanpun kembali munusuk jiwaku masuk dan menembus
hati kecilku ini. Hari itu menjadi hari yang sangat istimewa dalam perjalanan
hidupku, bermain, bercanda gura di kebun apel bersama keluarga khususnya
papaku. Aku tak tahu mengapa, segala hal yang dilakukan ataupun diucapkan oleh
papaku selalu merasuk di dalam ruang dan waktu dalam hidupku, indah tiada tara.
Namun mamaku sebaliknya, tak ada satupun hal istimewa bagi kehidupanku, kasih
sayang, kebahagiaan, ketenangan tak pernah sedikitpun kurasakan darinya
walaupun terkadang mama berusaha bersikap demikian, namun hasilnyapun sama,
kosong.